Ciri Sosiologi Sebgai Ilmu Pegettahuan

Diposting pada

Pengertian

Ciri Sosiologi – Sosiologi merpakan sebuah ilmu pengetahuan karena mengundang beberapa unsur di aas tadi. Adapun ciri-ciri sosiologi sebgai ilmu pengetahuan adalah sebagai berikut.

Ciri Sosiologi

  1. Sosiologi bersifat empiris, sosiologi dalam melakukan kajian tentang masyarakat didasarkan pada hasil observasi, tidak spekulatif dan hanya menggunakan akal sehat.
  2. Sosiologi bersifat teoritis. Sosiologi berusaha menyusun abstraksi dari hasil-hasil observasi. Abstraksi adalah kerangka dari unsur-unsur yang di dapat di dalam observasi, disususn secara logis, serta memiliki tujuan untuk menjelaskan hubungan sebab akibat.
  3. Sosiologi bersifat kumulatif. Teori-teori sosiologi dibentuk berdsasarkan teori-teori yang telah ada sebelumnya dalam arti memperbaiki, memperluas, dan memperhalus teori-teori lama.
  4. Sosilogi bersidat non-etis. Yang dilakukan sosiologi bukan mencar baik buruknya suatu fakta, tetapi menjelaskan fakta-fakta tersebut secara analitis. Itulah sebabnya para sosiologi tidak bertugas untuk berkhotbah dan mempergunjingkan baik buruknya tingkah laku social suat masyarkat.

Tokoh pertama yang meletakkan sosiologi sebagai sebuah ilmu adalah emile Durkheim. Durkheim menyatakan bahwa sosiologi memiliki objek kajian yang jelas yaitu fakta social. Dukheim memdefinisikan fakta social ini sebagai sebuah cara bertindak, berpikir dan merasa, yang berbeda di luar individu dan mempunyai kekuatan memaksa yang mengendalikannya. Contoh, kita haur menggunakan tangan kanan kettika bersalaman, kita harus menghormati orang yang lebih tua dan mengucapkan salam ketika bertemu dengan orang lain.

Sementra untuk metodologi, Durkheim mengemukakan konsep bebas nilai (value free). Menurut konsep ini, seorang sosiolog dalam melakukan penelitian terhadap masyaraka perlu melakukan batasan antara yang diteliti dan yang menelitti. Dengan demikian, hasil penelitian yang diperoleh dapatt bersifat objektif. Seperti layaknya ilmu raksasa dan para sosiolog adalah ilmuwan yang mengamati dan bereksperimen sehingga dapat bermanfaatt bagi masyarakat.

Metode-metode sosiologi

Mengenai motode ilmiah, sosiologi mengenal dua macam meode ilmiah, yakni metode kualitatif dan kuantitatif.

  1. Metode kkualitatif mengutamakan cara kerjanya dengan mendeskripsikan hasil penelitian berdasarkan penelitian berdasarkan penilaian-penilaian terhadap data yang diperoleh. Metode ini dipakai apabila data hasil penelitian tidak dapat diukur dengan angka.
  2. Metode kuantitatif mengutamakan keterangan berdasarkan angka-angka atau gejala-gejala yang diukur dengan skala, indeks, table, atau uji statistic.

Mengenai kedua metode ini akan kita pelajari lebih mendalam dikelas XII.

Sementara itu, langkah-langkah utama dalam sebuah penelitian sosiologi adalah sebagai berikut ini :

  1. Mendefinisikan masalah.
  2. Merumuskan masalah dan menentukan runga lingkup penelitian.
  3. Merummuskan hipotesa yang relevan dengan masalah yang dijukan.
  4. Memilih metode pengumpulan data.
  5. Menafsirkan data
  6. Menarik kesimpulan.

SEJARAH PERKEMBANGAN SOSIOLOGI

Perkembangan sosiologi di eropa

Setelah mengetahui bahwa sosiologi merupakan sebuah ilmu pengetahuan, anda mungkin bertanya bagamana dari filsafat social. Ilmu ini membahas tentang masyarakat. .namun saat itu, pembahasan tentang masyarakat hanya berkisar pada hal-hal yang manrik perhatian umum saja, seperti perang, ketegangan atau konflik social, dan kekuasaan dalam kelas-kelas penguasa. Dalam perkembangan selanjutnya, pembahasan tentang masyarakat, meningka pada cakupan yang leib mendalam yakni menyangkut susunan kehidupan yang diharapkan dan norma-norma yang harus ditaati oleh seluruh anggota masyarakat, sejak itu, berkembanglah satu kajian baru tenang masyrakat yang disebu sosiologi.


Menurut berger dan berger, sosiologi berkembang menjadi ilmu yang berdiri sendiri karena adanya ancaman terhadap tatanan social yang selama ini dianggap sudah seharusnya demikian nyata dan benar. L Laeyendecker mengidentifikasi ancaman tersebut meliputi :


  1. terjadinya dua revolusi, yakni revolusi industri dan revolusi Prancis,
  2. tumbuhnya kapitalisme pada akhir abad ke-15,
  3. perubahan di bidang sosial dan politik,
  4. perubahan yang terjadi akibat gerakan reformasi yang dicetuskan Martin Luther,
  5. meningkatnya individualisme,
  6. lahirnya ilmu pengetahuan modern,
  7. berkembangnya kepercayaan pada diri sendiri.

Menurut Laeyendecker, ancaman-ancaman tersebut menyebabkan perubahan-perubahan jangka panjang yang ketika itu sangat mengguncang masyarakat Eropa dan seakan membangun- kannya setelah terlena beberapa abad. Auguste Comte, seorang filsuf Prancis, melihat peruhahan- perubahan tersebut tidak saja bersifat positif seperti berkembangnya demokratisasi dalam masyarakat, tetapi juga berdampak negatif. Salah satu dampak negatif tersebut adalah terjadinya konflik antarkelas dalam masyarakat.


Menurut Comte, konflik konflik tersebut terjadi karena hilangnya norma atau pegangan (normless) bagi masyarakat dalam bertindak. Comte berkaca dari apa yang terjadi dalam masyarakat Prancis ketika itu (abad ke-19). Setelah pecahnya Revolusi Prancis, masyarakat Prancis dilanda konflik antarkelas Comte melihat hal itu terjadi karena masyarakat tidak lagi mengetahui bagaimana mengatasi perubahan akibat revolusi dan hukum-hukum apa saja yang dapat dipakai untuk mengatur tatanan sosial masyarakat.


Oleh karena itu, Comte menyarankan agar semua penelitian tentang masyarakat ditingkatkan menjadi suatu ilmu yang berdiri sendiri. Comte membayangkan suatu penemuan hukum-hukum yang dapat mengatur gejala-gejala sosial. Namun, Comte belum berhasil mengembangkan hukum-hukum sosial tersebut menjadi sebuah ilmu. la hanya memberi istilah bagi ilmu vang akan lahir itu dengan istilah sosiologi Sosiologi baru berkembang menjadi sebuah ilmu setelah Emile Durkheim mengembangkan metodologi sosiologi melalui bukunya Rules of Sociological Method.


Meskipun demikian, atas jasanya terhadap lahirnya sosiologi, Auguste Comte tetap disebut sebagai Bapak Sosiologi Meskipun Comte menciptakan istilah sosiologi, Herbert Spencer-lah yang mempopulerkan istilah tersebut melalui buku Principles of Sociology Di dalam buku tersebut, Spencer  mengembangkan sistem penelitian tentang masyarakat.


La menerapkan teori evolusi organik pada masyarakat manusia dan mengembangkan teori besar tentang evolusi sosial yang diterima secara luas di masyarakat. Menurut Comte, suatu organ akan lebih sempurna jika organ itu bertambah kompleks karena ada diferensiasi (proses pembedaan) di dalam bagian- bagiannya. Spencer melihat masyarakat sebagai sebuah sistem yang tersusun atas bagian-bagian yang saling bergantung sebagaimana pada organisme hidup.


Evolusi dan perkembangan sosial pada dasarnya akan berarti jika ada peningkatan diferensiasi dan integrasi, peningkatan pembagian keria, dan suatu transisi dari homogen ke heterogen dari kondisi yang sederhana ke yang kompleks. Setelah buku Spencer tersebut terbit, sosiologi kemudian berkembang dengan pesat ke seluruh dunia, termasuk Indonesia Perkembangan Sosiologi di Indonesia Sosiologi di Indonesia sebenarnya telah berkembang sejak zaman dahulu. Walaupun tidak mempelajari sosiologi sebagai ilmu pengetahuan, para pujangga dan tokoh bangsa Indonesia telah banyak memasukkan unsur-unsur sosiologi dalam ajaran-ajaran mereka.


Sri Paduka Mangkunegoro IV, misalnya, telah memasukkan unsur tata hubungan manusia pada berbagai golongan yang berbeda (intergroup relation) dalam ajaran Wulang Reh. Selanjutnya, Ki Hadjar Dewantara yang dikenal sebagai peletak dasar pendidikan nasional Indonesia banyak mempraktikkan konsep- [16.19, 9/11/2019] Abror: konsep penting sosiologi seperti kepemimpinan dan kekeluargaan dalam proses pendidikan di Taman Siswa yang didirikannya. Hal yang sama dapat juga kita selidiki dari berbagai karya tentang Indonesia yang ditulis oleh beberapa orang Belanda seperti Snouck Hurgronje dan Van Volenhaven sekitar abad 19.


Mereka menggunakan unsur- unsur sosiologi sebagai kerangka berpikir untuk memahami masyarakat Indonesia. Snouck Hurgronje, misalnya, menggunakan pendekatan sosiologis untuk memahami masyarakat Aceh yang hasilnya dipergunakan oleh penmerintab Belanda untuk menguasai daerah tersebut. Dari uraian di atas terlihat bahwa sosiologi di Indonesia pada awalnya, yakni sebelum Perang Dunia II hanya dianggap sebagai ilmu pembantu bagi ilmu-ilmu pengetahuan lainnya. Dengan kata lain, sosiologi belum dianggap cukup penting untuk dipelajari dan digunakan sebagai ilmu pengetahuan, yang terlepas dari ilmu-ilmu pengetahuan yang lain.


Secara formal, Sekolah Tinggi Hukum (Rechtsshogeschool) di Jakarta pada waktu itu menjadi satu-satunya lembaga perguruan tinggi yang mengajarkan mata kuliah sosiologi di Indonesia walaupun hanya sebagai pelengkap mata kuliah ilmu hukum. Namun, seiring perjalanan waktu, mata kulialh tersebut kemudian ditiadakan dengan alasan bahwa pengetahuan tentang bentuk dan susunan masyarakat beserta proses-proses yang terjadi di dalamnya tidak diperlukandalam pelajaran hukum.


Dalam pandangan mereka, yang perlu diketahui hanyalah perumusan peraturannya dan sistem-sistem untukmenafsirkannya. Sementara, penyebab terjadinya sebuah peraturan dan tujuan sebuah peraturan dianggap tidaklah penting. Setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, sosiologi di Indonesia mengalami perkembangan yang cukup signifikan.


Adalah Soenario Kolopaking yang pertama kali memberikan kuliah sosiologi dalam bahasa Indonesia pada 1ahun 1948 di Akademi Imu Politik Yogyakarta (sekarang menjadi Fakultas llmu Sosial dan Politik UGM) Akibatnya, sosiologi mulai mendapat tempat dalam insan akademisi di Indonesia apalagi setelah semakin terbukanya kesempatan bagi masyarakat Indonesia untuk menuntut ilmu di luar negeri sejak tahun 1950.


Banyak para pelajar Indonesia yang khusus memperdalam sosiologi di luar negeri, kemudian mengajarkan ilmu itu di Indonesia. Buku sosiologi dalam bahasa Indonesia pertama kali diterbitkan oleh Djody Gondokusumo dengan judul Sosiologi Indonesia yang memuat beberapa pengertian mendasar dari sosiologi. Kehadiran buku ini mendapat sambutan baik dari golongan terpelajar di Indonesia mengingat situasi revolusi yang terjadi saat itu. Buku in seakan mengobati kehausan mereka akan ilmu yang dapat membantu mereka dalam usaha memahami perubahan-perubahan yang terjadi demikian cepat dalam masyarakat Indonesia saat itu.


Selepas itu, muncul buku sosiologi yang diterbitkan oleh Bardosono yang merupakan sebuah diktat kuliah sosiologi yang ditulis oleh seorang mahasiswa. Selanjulnya bermunculan buku-buku sosiologi baik yang tulis oleh orang Indonesia maupun vang merupakan terjemahan dari hahasa asing. Sebagai contoh, buku Soeial Changes in Yogyakarta karya Selo Soemardjan yang terbit pada tahun 1962. Tidak kurang pentingnya, tulisan-tulisan tentang masalah-masalah sosiologi yang tersebar di berbagai majalah, koran, dan jurnal.


Selain itu, muncul pula fakultas , ilmu sosial dan politik berbagai universitas di Indonesia di mana sosiologi mulai dipelajari secara lebih mendalam bahkan pada beberapa universitas, didirikan jurusan sosiologi yang diharapkan dapat mempercepat dan memperluas perkembangan sosiologi di Indonesia

demikianlah artikel dari dosenmipa.com mengenai ciri sosiologi sebagai ilmu, semoga artikel ini bermanfaat bagi anda semua.

baca juga :