√ Senyawa Karbon : Tatanama, Contoh, Sifat dan Penjelasannya

Diposting pada

Pendahuluan

Di kelas X telah dipelajari senyawa karbon yaitu kekhasan atom karbon, senyawa hidrokarbon, dan pengertian isomer. Selanjutnya dalam bab ini akan kita pelajari senyawa karbon yang lain, yaitu: haloalkana, alkanol, alkoksi alkana, alkanon, alkanoat, dan alkil alkanoat.

Gugus Fungsi

Pengertian gugus fungsi Jumlah senyawa karbon sangat banyak, sehingga sulit jika dipelajari satu per satu. Untuk memudahkannya, maka senyawa-senyawa karbon itu dikelompokkan berdasarkan sifat khas yang dimiliki oleh senyawa-senyawa tersebut. Sifat yang khas itu disebabkan adanya atom atau gugus atom yang menentukan struktur dan sifat dari senyawa karbon, yang disebut gugus fungsi.


Gugus fungsi merupakan bagian yang aktif dari senyawa karbon. Apabila senyawa karbon direaksikan dengan suatu zat, maka gugus fungsinyalah yang mengalami perubahan. Jadi, senyawa karbon yang memiliki gugus fungsi tertentu mempunyai sifat-sifat tertentu pula. Berdasarkan gugus fungsinya senyawa-senyawa karbon yang jumlahnya sangat banyak dikelompokkan. Dengan demikian gugus fungsi dapat membedakan suatu golongan senyawa karbon dengan golongan yang lainnya. Beberapa gugus fungsional yang kita pelajari dapat dilihat pada tabel berikut.

Haloalkana

Senyawa haloalkana merupakan kepanjangan dari halogen alkana dan mempunyai rumus umum:

  • Tata nama

Tata nama senyawa haloalkana bisa dengan cara sebagai berikut.

1) Nama halogen disebutkan terlebih dahulu dan diberi nama halo seperti F dengan fluoro, Cl dengan kloro, Br dengan bromo, dan iod dengan iodo.

2) Penomoran C1 berdasarkan nomor halogen yang terkecil. Halogen dianggap cabang seperti alkil.

3) Jika halogen yang sama lebih dari satu diberi awalan:

– 2 dengan di, – 4 dengan tetra,

 – 3 dengan tri, – 5 dengan penta.

4) Jika jenis halogen lebih dari satu penomoran C1 berdasarkan halogen yang lebih reaktif.

5) Untuk kereaktifannya: F > Cl > Br > I Penulisan halogen berdasarkan urutan abjad.

Sifat kimia dan fisika:

1) Mempunyai titik didih yang lebih tinggi daripada alkana asalnya. Suku rendah berwujud gas, suku tengah berwujud cair, dan padat untuk suku yang lebih tinggi.

2) Sukar larut dalam air, dan mudah larut dalam pelarut organik.

3) Atom halogen yang terikat, mudah disubstitusikan oleh atom/ gugus lain.

  1. Pembuatan

Pembuatan senyawa haloalkana bisa melalui beberapa reaksi seperti berikut.

  • Reaksi substitusi

Reaksi penggantian atom H dengan atom halogen dengan bantuan sinar ultraviolet (suv) atau suhu tinggi:

Demikian seterusnya, jika dihaloalkana direaksikan dengan halogen, maka akan selalu menggantikan atom H dengan atom halogen dan sampai dihasilkan suatu senyawa polihaloalkana.

Untuk metana dan etana, atom H yang terikat semua pada atom C primer. Jika dalam alkana terdapat atom C primer, atom C sekunder atau atom C tersier, maka atom H yang akan disubstitusi adalah yang terikat paling lemah.

Urutan kekuatan ikatan atom H dengan atom C: Ctersier < Csekunder < Cprimer

  • Reaksi adisi

Reaksi adisi untuk pembuatan haloalkana yaitu antara senyawa alkana dengan senyawa asam halida (HX) atau senyawa halogen (X2). Lihat kembali aturan Markovnikov pada bab “Reaksi Senyawa Karbon”.

  1. Kegunaan dan kerugiannya

1) Haloalkana digunakan sebagai pelarut.

 Banyaknya senyawa haloalkana digunakan pelarut nonpolar seperti CCl4, CHCl3, C2H3Cl3. Pelarut ini bersifat racun, obat bius sehingga jangan sampai terhirup.

2) Digunakan sebagai obat bius. Kloroform (CHCl3) digunakan sebagai obat bius atau pemati rasa (anestesi) yang kuat. Kerugiannya, CHCl3 dapat mengganggu hati.

3) C2H5Cl (kloroetana) digunakan sebagai anestesi lokal (pemati rasa nyeri lokal). Ini digunakan pada pemain sepak bola dengan cara disemprotkan pada daerah yang sakit.

4) Freon (dikloro difluoro metana) digunakan sebagai pendorong pada produksi aerosol. Freon juga banyak digunakan sebagai gas pendingin pada AC (Air Conditioned), lemari es, dan lain-lain.

5) CH3Cl digunakan sebagai zat fumigan. Freon dan metil klorida dapat merusak lapisan ozon sehingga sangat membahayakan lingkungan.

6) C3H5Br2Cl (1,1-dibromo-1-kloro propana) digunakan sebagai insektisida pertanian. Hanya saja zat ini bisa menimbulkan kemandulan bagi para buruh tani.

7) DDT = dikloro difenil trikloro etana. Ini digunakan sebagai insektisida. Akan tetapi, ternyata DDT sukar sekali terurai, sehingga masih tetap ada dalam sayuran atau daging hewan ternak yang memakan rumput yang disemprot DDT. Akibatnya bisa menimbulkan keracunan.

8) C2H4Br2 (1,2-dibromo etana) digunakan sebagai aditif pada bensin yang menggunakan TEL (Tetra Ethyl Lead), Pb(C2H5) 4. Zat ini akan mengubah timbal menjadi timbal bromida dan akan menguap keluar dari knalpot.

  1. Alkohol (R–OH)

Alkohol adalah senyawa turunan alkana, karena satu atom H atau lebih dari alkana diganti oleh gugus –OH. Alkohol yang mempunyai satu gugus –OH disebut monoalkohol, sedangkan alkohol yang mempunyai lebih dari satu –OH disebut polialkohol.

  1. Monoalkohol

1) Rumus umum monoalkohol (alkanol)

Alkohol yang hanya mempunyai satu gugus –OH. Monoalkohol disebut juga alkanol. Untuk memahami rumus dari senyawa monoalkohol, maka kita lihat rumus senyawa alkane

Perhatikan bahwa senyawa alkana melepaskan satu atom H diganti dengan gugus -OH. Sehingga gugus fungsi -OH terikat pada gugus alkil, rumus umum alkohol adalah:

  1. Jenis-jenis alkohol

Atom karbon primer, sekunder, tersier, dan kuarterner telah dipelajari sebelumnya. Dalam kaitan itu berdasarkan letak gugus -OH pada rantai karbonnya, alkohol dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu:

  1. a) Alkohol primer Alkohol primer ialah alkohol yang gugus -OH-nya terikat pada atom C primer. Contoh: CH3-CH2-CH2-OH

  1. b) Alkohol sekunder

Alkohol sekunder ialah alkohol yang gugus -OHnya terikat pada atom C sekunder.

  1. c) Alkohol tersier

Alkohol tersier ialah alkohol yang gugus -OHnya terikat pada atom C tersier.

Untuk membedakan alkohol primer, sekunder, dan tersier dilakukan dengan reaksi oksidasi. Alkohol direaksikan dengan zat oksidator yaitu KMnO4 atau K2Cr2O7. Zat oksidator akan memberikan atom O. Pada reaksi di bawah ini zat oksidator ditulis dengan [O].

  1. Oksidasi alkohol primer

Alkohol primer dapat dioksidasi menjadi aldehid.

Jika oksidatornya berlebih, maka aldehid akan dioksidasi menjadi asam karboksilat.

  1. Oksidasi alkohol sekunder

Alkohol sekunder dapat dioksidasi menjadi keton.

  1. Oksidasi alkohol tersier

Alkohol tersier tidak dapat dioksidasi.

demikianlah artikel dari dosenmipa.com mengenai Senyawa Karbon, semoga artikel ini bermanfaat bagi anda semuanya.