Contoh Cerpen

Diposting pada
3/5 - (64 votes)

Contoh Cerpen Singkat

Teman Bukan Musuh

Aku adalah anak dari 3 bersaudara. Kakakku yang pertama bernama Adit,ia bekerja sebagai kuli angkut di pasar. Sedangkan kakakku yg ke-2 bernama Dila sekarang ia duduk di bangku SMP. Dan namaku Meli, memang hidup kami tak berkecukupan,baapakku juga tak bekerja karena sakit,sedangkan ibuku sudah meninggal satu tahun yang lalu.

Aku mempunyai seorang sahabat,Namany Keysa. Sayangnya di sekolahku ada seseorang yang membenc iku. Entah kenapa dia membenciku,padahal aku tak perna membencinya .Dia adalah Mila dan gengnya.Mila adalah orang terkaya di sekolahanku,.

Dia selalu mengolok-olokku “Meli anak miskin,.Meli anak miskin,.”itu yang selalu ia ucapkan ketika aku disekolah.Keysa sahabatku selalu ingin melawan Mila karna dia menganggap Mila sombong.. padahal niatku bersekolah disini untuk belajar bukan untuk mencari musuh.

Suatu hari, rumah keluarga Mila terbakar hangus,semua harta bendany a juga ikut lenyap karna peristiwa itu.”TEEETTT…selamat istirahat anak-anak”ucap bu guru. Setelah bu guru keluar,Mila pun lari,lalu ku ikuti dia.ternyata Mila lari ke taman dan duduk di bangku taman sekolah.

Ku coba perlahan mendekatinya “Mila kenapa kau menangis?” tanyaku. “Kenapa kamu ke sini? Ingin mengejekku? Karna aku sering mengejekmu?atau karna kamu tau aku sekarang miskin?”ucapnya kasar dengan tersedu-sedu.

”Tidak,..aku tidak seperti yang kamu pikirkan,aku justru ingin menghiburmu.”ucapku.”  Sebenarnya aku sedih karna teman-temanku menjauhiku karna aku sekarang sudah miskin,mereka tak mau berteman denganku..dan sekarang aku sudah tak punya teman lagi..Huhuhu”. “Siapa bilang?? Aku mau menjadi temanmu”.ujarku lagi. “

 “Benarkah??kau mau menjadi temanku?tapi bukankah aku telah jahat padamu?kenpa kau mau menjadi temanku?”ucap Mila.”Aku tak mau punya musuh,kita semua adalah teman..”ucapku.”Terimakasi kau memang baik.,ternyata aku salah menilai seseorang dari hartanya

Sejak itu aku mulai berteman baik dengan Mila.

Contoh Cerpen Persahabatan

Judul Cerpen Liku Liku Bersamamu
Kategori:cerpen persahabatan
Sahabat adalah teman terbaik. Di dalam sebuah persahabatan tak jarang terombang-ambing oleh badai perusak. Jika dapat melewati itu semua, pasti persahabatan yang dibina selama ini akan utuh selamanya.
Nama lengkapku Nayra Nasyifa atau biasa dipanggil Nana.
Aku dilahirkan 15 tahun yang lalu di lingkungan keluarga sederhana. Namun, aku bersyukur karena memiliki orangtua dan sahabat yang sayang terhadapku.
Sahabatku, Manda, satu sekolahan denganku di SD Bina Raga. Namun, aku mulai berkenalan dengannya saat kelas III.
“Hai… Namamu siapa?” tanya seorang anak perempuan yang tiba-tiba duduk bersebelahan denganku.
“Nama lengkapku Nayra Nasyifa. Kamu bisa memanggilku Nana. Kamu sendiri namanya siapa?” sahutku antusias sambil mengulurkan tangan dan disambut olehnya.
“Namaku Amanda Novita. Kamu bisa memanggilku dengan nama Manda,” jawabnya diiringi senyuman lebar dari wajahnya. Manis sekali.
Suatu hari di sekolah, ada yang berbeda dari Manda. Manda seperti menjauhiku. Aku mencoba mendekati Manda berulang kali, tetapi hasilnya nihil. Beberapa teman sekelasku juga seperti menjauhiku.Semenjak perkenalan itu, aku dan Manda berteman. Seiring berjalannya waktu, kami semakin dekat. Walaupun tak sebangku, kami selalu bersama kemanapun jika waktu istirahat berlangsung. Akhirnya kami mengukuhkan kedekatan ini dengan sebuah persahabatan saat kelas V.
Namun, tanpa kami ketahui ternyata ada beberapa teman yang tak suka dengan persahabatanku dengan Manda.
“Apa salahku? Apa ada yang aneh denganku hari ini? Hari ini juga bukan ulang tahunku. Namun, mengapa mereka semua seperti menjauhiku?” batinku dalam hati.
Saat istirahat berlangsung, Manda tetap tak kunjung mendatangiku. Temanku yang bernama Ririn yang sedari tadi menemani Manda di sampingnya. Aku mencoba berpikir positif bahwa Manda ingin bersama teman lain.
“Sudahlah, Na. Kamu jangan melamun terus! Ayo, kita cepat selesaikan cemilan kita. Nanti keburu bel istirahat selesai!” kata Rena teman sebangkuku mengingatkan.
“Iya, Ren. Maaf ya, aku jadi merepotkanmu,” sahutku sungguh-sungguh bersalah.
“Oke, no problem,” jawab Rena sambil jari jempolnya diacungkan ke arahku.
“Okay,” ujarku ringan yang diiringi gelak tawa kami berdua.
Teet.. Teet.. Teet.. Pertanda bel masuk setelah jam istirahat pertama berbunyi. Aku segera mengemasi perbekalanku dari rumah ke dalam tas. Jadwal pelajaran setelah istirahat adalah matematika. Saat pelajaran berlangsung, aku sedikit terhibur oleh tingkah kekonyolan cara guru matematikaku mengajar. Beliau mempunyai cara tersendiri untuk membuat muridnya menyukai pelajaran matematika.
Pelajaran matematika telah usai. Sekarang giliran mata pelajaran PKn. Namun, karena gurunya berhalangan hadir, kami diberi tugas. Sebagian teman-teman merasa kegirangan mengetahui kabar itu dan asyik bermain di dalam kelas. Aku dan Fany teman sebangkuku mengerjakan terlebih dahulu tugas yang diberikan oleh guru. Kami tak suka menunda-nunda pekerjaan.
Sebelum istirahat kedua, aku mengantarkan Hany ke ruang uks karena dia merasa sedikit sakit perut. Kami ditemani oleh Fany dan Nia. Beberapa langkah sebelum ke ruang uks, aku dipanggil oleh Ririn. Ririn mengantarkan surat untukku. Aku bingung dibuatnya. Namun, dia hanya mengatakan surat itu dari Manda.
Untuk: Nana
Na, maafkan aku ya… Mulai sekarang kita jadi teman biasa aja. Aku merasa kamu berteman denganku ada suatu misi. Seperti peribahasa ada udang di balik batu. Itu menurutku lho ya! Selain itu, kita juga sudah tidak cocok untuk bersahabat!
Surat singkat ini aku tulis sendiri dengan kedua tanganku. Jadi, ini tulus dari lubuk hatiku. Oh ya Na, sekali lagi aku meminta maaf kepadamu. Terimakasih selama ini kamu selalu ada untukku.
Manda
Hatiku serasa seperti tersayat pisau sewaktu aku membaca habis surat dari Manda. Aku berusaha untuk menahan sakitnya hati ini, tetapi ternyata tak bisa. Tetesan air mata secara perlahan mulai membasahi wajahku. Kepalaku penat memikirkan semua ini.
“Cup… Cup… Cup… Jangan sedih lagi kawan! Nana yang aku kenal itu pasti kuat terhadap cobaan yang menerpa,” kata Fany menenangkanku.
“I…ii…ya… Tetapi ini lain… Fany,” ujarku yang masih terisak tangis.
“Sudahlah, Na. Jika memang kamu dengan Manda benar-benar sahabat sejati, kalian suatu saat pasti bersama kembali. Aku yakin! Manda itu pasti sekarang juga sedih. Dia mungkin melakukan ini semua karena suatu hal,” sela Nia yang perkataannya itu membuatku dapat berpikir positif.
“Hmm… Iya. Terima kasih ya kawan-kawan” kataku dengan senyum yang mulai merekah di bibir.
“Gitu lho, Na. Senyum itu dapat mengurangi kesedihanmu,” ujar Hany bijak.
Aku berusaha sabar dan tabah dengan semua yang terjadi saat ini. Perkataan Nia menancap di lubuk hatiku. Jika memang aku dengan Manda benar-benar sahabat sejati, pasti suatu saat kami dapat bersama kembali. Aku percaya akan hal itu. Walaupun aku benar-benar sakit hati oleh perlakuan Manda kepadaku.
Pelajaran terakhir aku kurang konsentrasi. Aku ingin cepat-cepat pulang ke rumah. Saat pulang, tak sengaja aku melihat Manda berwajah muram. Batinku berperang. Inginku mendekatinya. Namun, Ririn yang di sampingnya seakan menjadikan Manda seperti hanya miliknya. Diriku ini menyadari, jika aku tak ada apa-apanya dibandingkan Ririn.
Dia lebih pintar dibandinkan aku. Mungkin itulah penyebab Manda memilihnya dibandingkan aku. Aku harus kuat, batinku tegar.
Di rumah, aku berusaha untuk tegar. Aku tak mau orang di rumah tahu kesedihanku ini. Setegar apapun yang terlihat, hatiku terus menerus menangis. Akibatnya, mataku tak bisa terpejam. Aku harus menahan air mata yang sewaktu-waktu siap meluap.
Tiba-tiba terlintas di pikiranku buku diary yang setiap malam selalu terisi oleh tumpahan beban di hatiku. Aku mencarinya. Buku diary aku temukan di antara buku pelajaranku yang tertata rapi di rak. Selama satu jam aku curahkan semua beban di hati. Hatiku agak lega karenanya. Tanpa aku sadari, akhirnya aku tertidur setelah menulis curahan isi hatiku di buku diary.
Keesokan harinya ketika di sekolah, aku berusaha untuk bersemangat menerima ilmu yang diberikan oleh guru. Selain itu, aku tak melihat Ririn di sekitar Manda. Aku ingin mendekatinya. Sebelum aku melangkahkan kakiku ke arah Manda, dia menyapaku dahulu. Akankah Manda ingin menjelaskan semua?, batinku.
“Nay, tolong dengarkan penjelasaanku ini dengan seksama ya! Sebelumnya, aku minta maafkan kepadamu. Aku mengaku salah. Tak semestinya aku melakukan hal sepicik itu kepadamu. Sejujurnya, aku kemarin dipaksa Ririn menulis surat kepadamu. Aku diancam dia. Jika aku tak melakukan yang perintahnya, dia akan memprovokator teman-teman untuk menjauhimu.
Dia mempunyai beribu cara, Nay. Aku tak tega kalau semua itu terjadi kepadamu. Maafkanlah aku, Nay!” ungkap Manda dengan mengenggam tanganku erat.
“Iya, Manda. Aku tahu kok, kalau kamu itu sahabat yang setia. Kamu tak mungkin mungkin mengkhianati perjanjian yang telah kita buat,” ujarku menangis terisak sambil memeluk Manda.
Setelah peristiwa itu, persahabatanku dengan Manda semakin rekat. Awalnya, Ririn masih mengganggu keutuhan persahabatan kami. Namun, karena kegigihan kami mempertahankan persahabatan ini. Ririn akhirnya menyerah dengan sendirinya.
Di masa mendatang, peristiwa ini dapat dijadikan sebuah pelajaran berharga untuk kami. Walaupun badai menghadang, sekuat tenaga kami akan tetap mempertahankan persahabatan yang indah ini.

Contoh Cerpen Pendidikan singkat tentang Moral di Sekolah

Bintang – Cerpen pendidikan

Dia duduk di samping sebuah jendela, di bawah terpaan sinar lampu yang temaram. Mencoba memandang langit yang mulai gelap, hanya ada sedikit rembulan yang memantulkan sebagian dari cahaya matahari itu. Tak ada sedikit pun bintang yang terlihat.

Semua bersembunyi dibalik awan, barangkali mereka malu untuk kulihat. Katanya dalam hati sambil tersenyum. Angin malam terasa berhembus sepoi-sepoi, seolah -olah menghembuskan udara pada wajahnya yang begitu lembut.
Awan terlihat bergerak secara perlahan, memberikan seni indah tersendiri di kegelapan malam. Ahh, ternyata ada satu bintang  cantik bersembunyi di balik awan, senyumnya tersungging di balik bibirnya yang mungil nan manis.
Ya Rabb, setitik cahaya pun bisa memberikan keindahan yang amat luar biasa diantara luasnya langit yang gelap pada malam hari. Seandainya  saja ketika membuka jendela, ku memandang langit dan tak menemukan bintang sama sekali kemudian tak mencoba menatap awan tapi menutup jendela kembali, aku tak akan menemukan bintang cantik yang tersembunyi di balik awan.
Seperti setitik bintang di tengah gelapnya malam, terkadang kita tak menyadari adanya cahaya kecil dalam malam yang gelap itu, yang sejatinya kita berinama “bintang”. Betapa memukaunya cahaya itu walaupun tak bisa menerangi semua malam. Namun, lain halnya saat kita melihat ada setitik noda di atas kain berwarna putih yang membentang.
Kita akan justru terfokus pada noda hitam yang kecil tersebut, dan seolah lupa akan betapa bersihnya kain itu apabila terlepas dari setitik noda yang ada, yang mungkin dapat hilang hanya dengan sedikit sabun detergent pemutih. Itulah hidup, terkadang kita lupa untuk memandang segala sesuatu dari sisi lain yang kita miliki.