Resensi Novel Bumi Manusia

Diposting pada

Resensi Novel Bumi Manusia

Bumi Manusia ditulis oleh sastrawan Indonesia bernama Pramoedya Ananta Toer ketika mendekam di Pulau Buru. Resensi novel Bumi Manusia ini hadir untuk memfasilitasi rasa penasaran Anda dengan karya beliau tersebut yang sangat mengagumkan.


Identitas Buku

Kategori Keterangan
Judul Bumi Manusia
Penulis Pramoedya Ananta Toer
Penerbit Lentera Dipantara
Cetakan 17 Januari 2011
Isi 535 halaman
ISBN 979-97312-3-2

Resensi Novel Bumi Manusia

Bumi Manusia adalah salah satu novel yang ceritanya mengalir dan di dalamnya mengandung konflik-konflik monumental. Kisah di dalamnya adalah tentang kondisi sosial dengan latar waktu di akhir abad 19 hingga abad 20.

Kisah yang diangkat adalah percintaaan warga pribumi dengan seorang gadis Indo yang merupakan keturunan Belanda.

Baca Juga ; Resensi Novel Laskar Pelangi

Minke adalah laki-laki pribumi yang luar biasa. Pasalnya, ia memiliki pola pikir seperti orang-orang Eropa pada umumnya. Di dalam tubuhnya mengalir darah para raja di Pulau Jawa, namun dirinya hampir tidak dikenali lagi sebagai orang Jawa.

Postur tubuhnya menggambarkan masyarakat Jawa, akan tetapi pandangan hidup dan pemikirannya setara dengan bangsa Eropa. Ini bukanlah hal yang biasa pada zaman itu. Minke juga sosok pemuda cerdas yang mencintai sastra tidak seperti pemuda lainnya.

Annelies Mellema, sosok gadis cantik ini digambarkan lebih cantik jika dibandingkan kecantikan Ratu Netherland kala itu, yaitu Ratu Wilhelmina. Ia adalah putri seorang nyai yang lain daripada sosok nyai pada umumnya dan bukanlah seperti gundik yang dianggap menjijikkan oleh masyarakat.

Ibunya ini sangat luar biasa karena selain berperan sebagai ibu, beliau juga mampu mengurus berbagai macam pekerjaan setelah suami tidak sahnya yaitu Tuan Mellema menjadi gila. Bahkan, apa pun di sekelilingnya sudah tidak dipedulikan oleh suaminya tersebut.

Annelies memutuskan untuk menjadi pribumi seperti halnya ibunya meskipun ayahnya berkebangsaan Belanda. Ia sangat manja dengan ibunya dan sikapnya juga manis. Hal ini sangat berbeda dengan kakaknya, yaitu Robert Mellema. Robert merasa dirinya adalah orang Belanda asli.

Bahkan, nyai sampai tidak dianggap seperti ibunya sendiri. Ia begitu kagum dengan ayahnya meskipun kini sudah tidak mempedulikannya lagi.

Pada kisah selanjutnya, penulis mulai menunjukkan pentingnya seseorang belajar karena aktivitas tersebut akan mengubah nasib. Contohnya adalah nyai, meskipun tidak bersekolah namun bisa menjadi sosok guru yang sangat hebat untuk siswanya di HBS.

Nyai memiliki wawasan dan pengetahuan yang jauh lebih luas daripada guru-guru di sekolah elit tersebut. Semua ini dikarenakan nyai belajar dari pengalaman, buku-buku dan yang paling penting adalah berdasarkan kehidupannya sehari-hari.

Kisah ditulis dengan kata-kata indah dan puitis yang bertebaran di setiap bagian. Konflik dan permasalahan mulai bermunculan yang digambarkan begitu nyata. Lalu, mulai menceritakan aktivitas sehari-hari Minke yang juga merupakan siswa di HBS.

Tidak lupa Pramoedya juga menceritakan dengan jelas dan cerdas situasi apa saja yang terjadi dan rutinitas masyarakat di masa tersebut. Suatu hari, Minke diajak Robert Surhof yang notabennya adalah temannya. Mereka berdua akan pergi menuju rumah Wonokromo yang juga temannya.

Selama ini Minke sering mendengar gosip mengenai keberadaan suatu keluarga pemilik perusahaan besar yang berdiri di Wonokromo.

Nyai Ontosoroh, itulah nama panggilan dari orang-orang kampung. Beliau adalah pemilik Perusahaan Boerderij Boeitenzorg. Nyai mempunyai kekuatan sehingga membuat tuannya bertekuk lutut kepada dirinya.

Nyai juga memiliki pengawal yang tampak sangat menyeramkan, bernama Darsam. Minke pun ketakutan saat memikirkan akan hal itu. Namun, tiba-tiba berhentilah kereta kuda mereka di depan gerbang rumah yang megah. Kemudian, Minke diajak turun oleh temannya.

Pikiran Minke berkecamuk, ia bertanya-tanya tentang rumah yang dikunjungi apakah benar milik nyai Ontosoroh. Robert Surhof pun tidak mempedulikan berita tersebut karena ia adalah Belanda tulen dan tidak mau tau dengan apa pun yang diperbincangkan orang pribumi.

Kedua pemuda itu masuk ke dalam rumah. Kemudian, mulailah konflik-konflik yang menegangkan dan rumit. Meskipun novel mengandung cerita percintaan, namun penulis tidak mengajarkan para pembacanya untuk bersikap cengeng hanya karena cinta.

Kehadiran novel seolah-olah membawa semua orang ke masa di mana pemerintah Hindia Belanda menguasai negeri ini. Anda dapat menyaksikan peristiwa yang terjadi dan tentu semakin menambah wawasan.

Berbagai pemikiran yang muncul untuk memperjuangkan keadilan pribumi, sikap masyarakat, strata sosial dan semua hal yang berkaitan dengan masa itu terbalut indah pada kisah cinta Annelies dengan Minke. Meskipun ceritanya harus berakhir menyedihkan.


Kelebihan

Novel sangat bagus dan cocok dibaca oleh semua kalangan kecuali anak-anak. Penulis juga menekankan arti penting belajar dan memberikan pesan-pesan yang disampaikan secara tersurat maupun tersirat.

Baca Juga : Resensi Novel Serena

Alur ceritanya sungguh menarik untuk dibaca dan diikuti sampai akhir. Setiap permasalahan yang muncul ditulis dengan jelas bahkan hampir sempurna tanpa ada celah.


Kekurangan

Novel menggunakan bahasa yang cukup tinggi sehingga pembaca harus berpikir keras untuk memahami alur ceritanya.

Baca Juga : Resensi Novel Perahu Kertas

Resensi novel Bumi Manusia yang berisi kejadian pada tahun 1898 sampai 1918 ini mampu dikemas dengan baik oleh penulis. Hal ini tampak pada alur cerita dan konflik-konflik yang dimunculkan. Ditambah lagi adanya pesan-pesan yang sangat bermanfaat bagi pembaca.

Lihat Juga :  Harga Ready Mix