Manfaat BEP (Break Even Point)

Diposting pada
4.9/5 - (65 votes)

Definisi Break Even Point Manfaat BEP

Pengertian analisa break even menurut Sigit (1993, p. 2) adalah suatu cara atau suatu teknik yang digunakan oleh seorang petugas atau manajer perusahaan untuk mengetahui pada volume (jumlah) penjualan dan volume produksi berapakah perusahaan yang bersangkutan tidak menderita kerugian dan tidak pula memperoleh laba.

Definisi analisa break even menurut Schmidgall, Hayes, dan Ninemeier (2002) adalah, “Break even analysis is a management tool that can help restaurant managers examine the relationship between various costs, revenues and sales volume. It allows to determine revenue required at any desired profit level that called Cost-Volume-Profit (CVP) analysis” (p. 169).

yang kurang lebih memiliki arti : analisa titik impas adalah suatu alat manajemen yang dapat membantu manajer restoran untuk melihat hubungan antara bermacam-macam biaya, pendapatan dan volume penjualan. Melalui analisa titik impas, manajer juga dapat menentukan jumlah pendapatan yang diperlukan pada suatu tingkat pencapaian laba yang diinginkan yang juga biasa disebut Analisis Biaya-Volume-Laba .

Menurut Mulyadi (1993, 230) Analisa break even adalah suatu cara untuk mengetahui volume penjualan minimum agar suatu usaha tidak menderita rugi, tetapi juga belum memperoleh laba yang dengan kata lain labanya sama dengan nol.

Menurut Matz, Usry, dan Hammer (1991, p. 202), Analisa break even merupakan suatu analisa yang digunakan untuk menentukan tingkat penjualan dan bauran produk yang diperlukan agar semua biaya yang terjadi dalam periode tersebut dapat tertutupi, yang mana analisa tersebut dapat menunjukkan suatu titik dimana perusahaan tidak memperoleh laba ataupun menderita rugi.

Menurut Rony (1990, p. 358) Analisa break even atau disebut Analisis titik impas merupakan sarana bagi manajemen untuk mengetahui pada titik berapa hasil penjualan sama dengan jumlah biaya sehingga perusahaan tidak memperoleh keuntungan maupun kerugian.

Bambang Riyanto, dalam bukunya “Dasar-dasar pembelanjaan Perusahaan” mengemukakan pengertian Analisa Break Even sebagai berikut:
“Analisa Break Even adalah suatu teknik analisa untuk mempelajari hubungan antara biaya tetap, biaya variabel, keuntungan dan volume kegiatan. Oleh karena analisa tersebut mempelajari hubungan antara biaya – keuntungan – volume, maka analisa tersebut sering juga disebut ‘cost-profit volume analysis (CPV analysis)’, (1982: 290)”.


Manfaat Analisa Break Even Point.

Menurut Rony (1990, p. 357) analisis titik impas atau analisis Break Even Point sangat bermanfaat bagi manajemen dalam menjelaskan beberapa keputusan operasional yang penting dalam tiga cara berbeda namun tetap berkaitan yaitu:

  • Pertimbangan tentang produk baru dalam menentukan berapa tingkat penjualan yang harus dicapai agar perusahaan memperoleh laba.
  • Sebagai kerangka dasar penelitian pengaruh ekspansi terhadap tingkat operasional.
  • Membantu manajemen dalam menganalisis konsekuensi penggeseran biaya variabel menjadi biaya tetap karena otomisasi mekanisme kerja dengan peralatan yang canggih.

Matz, Usry dan Hammer (1991, p. 224) juga menjelaskan beberapa manfaat analisa break even untuk manajemen, yaitu :

  • Membantu pengendalian melalui anggaran.
  • Meningkatkan dan menyeimbangkan penjualan.
  • Menganalisa dampak perubahan volume.
  • Menganalisa harga jual dan dampak perubahan biaya.
  • Merundingkan upah.
  • Manganalisa bauran produk.
  • Manerima keputusan kapitalisasi dan ekspansi lanjutan.
  • Menganalisa margin of safety.

Sedangkan menurut Sigit (1993, p. 1) analisa Break Even Point mempunyai beberapa manfaat, diantaranya adalah :

  • Sebagai dasar merencanakan kegiatan operasional dalam usaha mencapai laba tertentu.
  • Sebagai dasar atau landasan untuk mengendalikan aktivitas yang sedang berjalan.
  • Sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan harga jual.
  • Sebagai bahan atau dasar pertimbangan dalam pengambilan keputusan

Asumsi-Asumsi Dasar Analisa Break Even Point :

Beberapa asumsi yang berpengaruh dalam analisa break even menurut Mulyadi (1993, p. 259) adalah sebagai berikut :

  • Variabilitas biaya dianggap akan mendekati pola perilaku yang diramalkan.
  • Harga jual produk dianggap tidak berubah-ubah pada berbagai tingkat kegiatan.
  • Kapasitas produksi pabrik dianggap secara relative konstan.
  • Harga faktor-faktor produksi dianggap tidak berubah.
  • Efisiensi produksi dianggap tidak berubah.
  • Perubahan jumlah persediaan awal dan akhir dianggap tidak signifikan.
  • Komposisi produk yang dijual dianggap tidak berubah.
  • Volume merupakan faktor satu-satunya yang mempengaruhi biaya

Dampak Perubahan dari Beberapa Faktor dalam Analisa Break Even Point Menurut Mulyadi dalam buku Akuntansi Manajemen (1993, 259):

  • Suatu perubahan dalam biaya variabel akan mengakibatkan perubahan dalam contribution margin dan impas.
  • Suatu perubahan dalam harga jual akan mengakibatkan perubahan pada contribution margin dan impas.
  • Angka laba kontribusi hanya akan dipengaruhi oleh perubahan pada biaya variabel dan harga jual.
  • Suatu perubahan dalam biaya tetap mengakibatkan perubahan pada impas tapi tidak mempengaruhi laba kontribusi.
  • Suatu perubahan gabungan dalam biaya tetap dan biaya variabel pada arah yang sama akan menyebabkan perubahan tajam terhadap impas

Kelemahan BEP

Kelemahan Titik Impas

  1. Membutuhkan banyak asumsi
  2. Bersifat statis
  3. Tidak digunakan untuk mengambil keputusan akhir
  4. Tidak menyediakan pengujian aliran kas yang baik
  5. Kurang mempertimbangkan resiko-resiko dalam masa penjualan

Manfaat BEP.

  1. Alat perencanaan untuk hasilkan laba
  2. Memberikan informasi mengenai berbagai tingkat volume penjualan, serta hubungannya dengan kemungkinan memperoleh laba menurut tingkat penjualan yang bersangkutan.
  3. Mengevaluasi laba dari perusahaan secara keseluruhan
  4. Mengganti system laporan yang tebal dengan grafik yang mudah dibaca dan dimengerti.

Fungsi Analisis BEP

Rumus BEP/analisis break even point (Analisis balik modal) digunakan untuk menentukan hal-hal seperti:

  • Jumlah penjualan minimum yang harus dipertahankan agar perusahaan tidak mengalami kerugian. Jumlah penjualan minimum ini berarti juga jumlah produksi minimum yang harus dibuat.
  • Jumlah penjualan yang harus dicapai untuk memperoleh laba yang telah direncanakan atau dapat diartikan bahwa tingkat produksi harus ditetapkan untuk memperoleh laba tersebut.
  • Menentukan jumlah penjualan yang harus harus dicapai untuk memperoleh keuntungan tertentu
  • Menganalisis perubahan harga jual, harga pokok dan besarnya hasil penjualan atau tingkat produksi. Sehingga analisis terhadap BEP merupakan suatu alat perencanaan penjualan dan sekaligus perencanaan tingkat produksi, agar perusahaan secara minimal tidak mengalami kerugian. Selanjutnya karena harus memperoleh keuntungan berarti perusahaan harus berproduksi di atas BEP-nya (Prawirasentono : 1997).

Jenis Break Event Point (BEP)

  1. BEP Unit      : BEP yang dinyatakan dalam jumlah penjualan produk di nilai tertentu.
  2. BEP Rupiah : BEP yang dinyatakan dalam jumlah penjualan atau harga penjualan tertentu.

3 Elemen Rumus BEP

Ada 3 elemen dari rumus BEP yang menyusun perhitungan BEP tersebut diantaranya :

  1. Fixed Cost (Biaya tetap) yaitu biaya yang dikeluarkan untuk menyewa tempat usaha, peralatan, komputer dll. Biaya ini adalah biaya yang tetap kita harus keluarkan walaupun kita hanya menjual 1 unit atau 2 unit, 5 unit, 100 unit atau tidak menjual sama sekali.
  2. Variable cost (biaya variable) yaitu biaya yang timbul dari setiap unit penjualan contohnya setiap 1 unit terjual, kita perlu membayar komisi salesman, biaya antar, biaya kantong plastik, biaya nota penjualan, dll.
  3. Harga penjualan yaitu harga yang kita tentukan dijual kepada pembeli