Qiyamuhu Binafsihi Artinya dalam Akidah Islam

Religius21 Views

Dalam kajian akidah Islam, istilah Qiyamuhu Binafsihi sering dibahas sebagai bagian dari sifat wajib Allah. Sifat ini menegaskan bahwa Allah berdiri sendiri tanpa membutuhkan apapun, tidak bergantung pada makhluk, dan tidak diciptakan oleh sesuatu pun. Memahami konsep ini menjadi kunci dalam memperkuat tauhid seorang muslim.

“Qiyamuhu Binafsihi artinya Allah berdiri sendiri, tidak bergantung pada makhluk, tidak membutuhkan tempat, penolong, maupun penyokong dalam keberadaan-Nya.”


Makna Qiyamuhu Binafsihi

Qiyamuhu Binafsihi menunjukkan kesempurnaan Allah yang tidak membutuhkan apapun di luar diri-Nya. Allah ada dengan sendirinya, tidak didahului ketiadaan, dan tidak bergantung pada ruang maupun waktu. Semua makhluk membutuhkan pencipta, sementara Allah adalah Sang Pencipta itu sendiri.

Allah Tidak Membutuhkan Tempat

Makhluk membutuhkan ruang untuk eksis. Namun Allah tidak terikat oleh ruang dan waktu. Dialah yang menciptakan ruang, waktu, dan segala sesuatu di dalamnya.

Allah Tidak Bergantung pada Makhluk

Semua ciptaan bergantung pada sesuatu. Pohon butuh tanah dan air, manusia butuh oksigen dan makanan. Namun Allah tidak pernah bergantung kepada siapapun. Justru sebaliknya, seluruh makhluk bergantung kepada-Nya.

Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya Allah itu Maha Kaya, Dia tidak membutuhkan alam semesta.”
(HR. Muslim)


Kedudukan Qiyamuhu Binafsihi dalam Ilmu Tauhid

Dalam ilmu tauhid, sifat Qiyamuhu Binafsihi termasuk dalam sifat wajib Allah yang menjadi pembeda utama antara Sang Khaliq dan makhluk. Sifat ini sekaligus menjadi bantahan terhadap paham yang menyamakan Allah dengan ciptaan.

Sifat Wajib Allah yang Berkaitan

Qiyamuhu Binafsihi berkaitan erat dengan sifat Qidam (Allah tidak berpermulaan) dan Baqa (Allah kekal tanpa akhir). Jika Allah bergantung pada sesuatu, maka keberadaan-Nya akan memiliki permulaan dan akhir. Padahal Allah bersifat azali dan abadi.

Peran dalam Mengokohkan Tauhid

Tauhid tidak hanya sekadar mengakui Allah sebagai satu-satunya Tuhan, tetapi juga menegaskan kesempurnaan-Nya. Keyakinan pada Qiyamuhu Binafsihi membuat umat Islam semakin yakin bahwa Allah Esa, tidak membutuhkan apapun, sementara semua makhluk membutuhkan-Nya.

Allah berfirman:
“Allah-lah yang Maha Kaya, sedangkan kalianlah yang fakir.”
(QS. Muhammad: 38)


Qiyamuhu Binafsihi dalam Pandangan Ulama

Para ulama ahli kalam menjelaskan Qiyamuhu Binafsihi sebagai fondasi akidah yang membedakan Allah dari makhluk.

Penjelasan Imam Al-Asy’ari

Imam Abu Hasan Al-Asy’ari menegaskan bahwa Allah berdiri dengan Dzat-Nya sendiri, tidak bergantung pada makhluk, tempat, maupun arah.

Pandangan Imam Al-Maturidi

Imam Al-Maturidi menyatakan bahwa salah satu kesempurnaan Allah adalah sifat-Nya yang berdiri sendiri. Menurut beliau, keyakinan bahwa Allah membutuhkan sesuatu berarti menyamakan Allah dengan makhluk, yang jelas tidak benar.

“Salah satu kesempurnaan Allah adalah bahwa Dia berdiri sendiri dengan Dzat-Nya, tidak membutuhkan penopang atau penyebab.” (Imam Al-Maturidi)


Hadits yang Mendukung Konsep Qiyamuhu Binafsihi

Selain Al-Qur’an, hadits juga memperkuat makna Qiyamuhu Binafsihi.

Allah Tidak Tidur dan Tidak Lelah

Rasulullah SAW bersabda:

“Allah tidak tidur dan tidak layak bagi-Nya tidur. Dia merendahkan timbangan dan meninggikannya. Amal malam dinaikkan kepada-Nya sebelum amal siang, dan amal siang dinaikkan sebelum amal malam. Hijab-Nya adalah cahaya.”
(HR. Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa Allah berbeda dari makhluk. Allah tidak membutuhkan istirahat atau tidur.

Allah Maha Kaya

Rasulullah SAW bersabda:

“Tangan Allah itu penuh, tidak berkurang karena memberi, dan selalu mengalir di siang dan malam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini memperkuat keyakinan bahwa Allah tidak bergantung pada apapun. Justru seluruh makhluk bergantung pada-Nya.


Relevansi Qiyamuhu Binafsihi dalam Kehidupan Sehari-hari

Pemahaman sifat Qiyamuhu Binafsihi bukan sekadar teori akidah, tetapi berimplikasi pada sikap hidup seorang muslim.

Menumbuhkan Tawakal

Keyakinan ini membuat seorang muslim lebih mudah berserah diri kepada Allah, karena ia tahu hanya Allah yang tidak bergantung pada apapun.

Menghindarkan dari Syirik

Qiyamuhu Binafsihi menjaga seorang muslim dari perbuatan syirik, sebab ia yakin Allah tidak membutuhkan sekutu atau sesembahan lain.

Membentuk Jiwa yang Tenang

Seorang muslim akan merasa tenang karena ia berdoa kepada Allah yang berdiri sendiri, tidak pernah lemah, dan selalu mendengar permohonan hamba-Nya.

“Saya pribadi merasa bahwa mempelajari sifat Qiyamuhu Binafsihi menumbuhkan keyakinan yang dalam bahwa doa tidak pernah sia-sia. Doa itu ditujukan kepada Dzat Yang Maha Berdiri Sendiri, yang tidak pernah lelah memberi dan selalu mendengar.”


Hubungan Qiyamuhu Binafsihi dengan Filsafat

Dalam filsafat ketuhanan, banyak pemikiran yang membahas tentang sebab pertama atau causa prima. Para filosof bertanya, siapakah yang menciptakan segala sesuatu? Jika ada sebab, maka ada sebab di balik sebab itu, hingga akhirnya harus berhenti pada satu Dzat yang tidak diciptakan, yaitu Allah. Inilah esensi Qiyamuhu Binafsihi.

Bantahan terhadap Paham Atheisme

Atheisme sering menyangkal keberadaan Tuhan dengan logika sebab-akibat. Namun dengan Qiyamuhu Binafsihi, umat Islam meyakini bahwa Allah adalah sebab pertama yang tidak diciptakan dan tidak bergantung pada apapun.

Relevansi dengan Pemikiran Modern

Dalam dunia modern, sains menjelaskan hukum alam, tetapi tidak bisa menjawab siapa yang menetapkan hukum itu. Qiyamuhu Binafsihi menjadi jawaban bahwa Allah ada sebelum hukum alam, dan Dialah penetap hukum tersebut.


Penerapan Qiyamuhu Binafsihi dalam Dakwah

Para dai dan ulama sering menjadikan sifat ini sebagai penguat dakwah. Dengan menanamkan pemahaman Qiyamuhu Binafsihi, umat akan lebih yakin terhadap keesaan Allah.

Dalam Pendidikan Islam

Sifat Qiyamuhu Binafsihi diajarkan sejak dini dalam kurikulum madrasah agar generasi muda memahami akidah dengan benar.

Dalam Kehidupan Sosial

Masyarakat yang memahami sifat ini akan lebih kokoh dalam menghadapi tantangan hidup, karena mereka sadar bahwa hanya Allah yang tidak membutuhkan apapun, sementara manusia lemah dan selalu membutuhkan pertolongan-Nya.

“Merenungi Qiyamuhu Binafsihi membuat saya sadar bahwa segala bentuk kesombongan manusia hanyalah semu. Pada akhirnya, semua kembali bergantung pada Allah yang tidak pernah membutuhkan kita, sementara kita selalu membutuhkan-Nya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *