Ra’ Tafkhim

Diposting pada

Pengertian Ra Tafkhim

Ra’ Tafkhim adalah salah satu cabang dari hukum Tajwid yang berarti Ra’ yang dibaca tebal. Tafkhim sendiri secara bahasa berarti tebal, sedangkan secara istilah Tafkhim adalah menebalkan huruf tertentu dengan cara menjorokkan bibir ke depan (mecucu).
Baca Juga : Alif Lam Qomariah

Cara Membaca Ra’ Tafkhim

Seperti ulasan diatas, hukum cara membaca Ra’ Tafkhim yaitu harus dibaca tebal dengan bibir sedikit mecucu ke depan.

Syarat dan Contoh Bacaan Ra’ Tafkhim

Tafkhim menurut bahasa adalah tebal , sedangkan menurut istilah Tafkhim (تَفْخِيْمُ) adalah menebalkan huruf tertentu dengan cara mengucapkan huruf tertentu dengan cara mengucapkan huruf di bibir (mulut) dengan menjorokkan ke depan (bahasa Jawa mecucu).Cara membacanya yaitu dengan bibir sedikit kemuka atau monyong.

Huruf Ra’ harus dibaca tebal (Tafkhim) manakala :
1. Ra’ bertanda baca fathah. Contoh:
رَحْمَةَ اللهِ، حَشَرَةٌ، اَلرَّحِيْمِ، اَلْفُقَرَآءَ
2. Ra’ bertanda baca dhammah. Contoh:
اَ ْلاَخْيَارُ، كَفَرُوْا، اُذْكُرُوا اللهَ، رُفِعَتْ
3. Ra’ bertanda Sukun (mati), sedang huruf di belakangnya berupa huruf yang berharakat fathah. Contoh:
مَرْحَبًا، نَرْزُقُكُمْ، مَرْيَمُ، قَرْيَةٍ
4. Ra’ bertanda Suku (mati), sedang huruf di belakangnya berupa huruf yang berharakat dhammah. Contoh:
ذُرِّيَّةً، قُرْبَةً، عُرْيَانًا، حُرْمَةً
5. Ra’ bertanda Sukun (mati), sedang huruf di belakangnya berupa huruf yang berharakat kasrah, akan tetapi kasrah ini bukan asli tetapi baru datang. Contoh:
اِرْجِعِيْ، اِرْحَمْ، اِرْجِعُوْا، اَمِ ارْتَابُوْا
Baca Juga : Alif Lam Syamsiyah
6. Ra’ Sukun (mati), sedang huruf di belakangnya berharakat kasrah asli dan sesudah Ra’ bertemu dengan huruf isti’la yang terdapat tujuh huruf yang terkumpul dalam kalimat:  <خُصَّ ضَغْطٍ قِظْ  Contoh:
يَرْضَاهُ، فُرْقَةٌ، لَبِالْمِرْصَادِ، قِرْطَاسٌ

Ruang Lingkup Tajwid

Ruang lingkup pembahasan ilmu tajwid adalah sebagai berikut:

  1. Makhroj huruf

Makhroj huruf ialah suatu nama tempat yang mana pada tempat itu huruf hijaiyah dilafalkan. Setiap huruf hijaiyah harus dilafalkan sesuai dengan makhrojnya. Kesalahan dalam pengucapan huruf hijaiyah akan menimbulkan perbedaan makna. Apalagi huruf hijaiyah banyak yang mirip dan berdekatan dalam pengucapannya dan berbeda dengan karakeristik lidah orang Indonesia ataupun Melayu.

Baca Juga : Hamzah Washal

  1. Sifat huruf

Yang dimaksud sifat huruf di sini adalah sesuatu yang datang ketika huruf diucapakan dari makhrojnya.

  1. Ahkamul huruf

Membahas hubungan antar huruf seperti ketika alif lam ta’rif menghadapi huruf hijaiyah, maka ada yang dibaca idzhar ada pula yang diidghomkan.

  1. Mad dan qoshr

Membahas hukum memanjangkan dan memendekkan bacaan. Ketika membaca Al-Qur’an ada kaidah mad yang harus dibaca panjang mulai 2 harkat sampai 6 harkat.

Baca Juga : Harga U Ditch

  1. Waqof dan ibtida’

Artinya menghentikan dan memulai bacaan. Salah satu aturan ketika membaca Al-Qur’an adalah tidak boleh mengambil nafas di tengah bacaan. Apabila sudah habis nafas, maka harus berhenti pula bacaannya, tapi tidak boleh disembarangan kata untuk berhenti. Untuk itu, kita harus mengetahui cara berhenti dan memulai bacaan.

  1. Rosm Utsmani

Rosm bisa diartikan atsar/bekas, khat/ penulisan atau metode penulisan. Rosm Utsmani atau disebut juga rosmul Qur’an adalah tata cara penulisan Al-Qur’an berdasarkan kaidah tertentu yang tetapkan pada masa Kholifah Utsman bin Affan.

Hukum Mempelajari Ilmu Tajwid

Tentang hukum mempelajari ilmu tajwid adalah fardhu kifayah. Artinya cukup perwakilan dari suatu kampung untuk mempelajarinya secara mendalam. Namun jika di sauatu kampung atau kaum tidak ada seorangpun yang mempelajari ilmu tajwid maka berdosalah penduduk kampung tersebut. Adapun mempraktikkan ilmu tajwid adalah fardhu ain, dimana setiap orang membaca Al-Qur’an harus menggunakan tajwid. Ibnul Jazariy berpendapat di dalam syairnya: 

وَالأَخْذُ بِالتَّجْوِيدِ حَتْمٌ لازِمُ ۞ مَنْ لَمْ يُجَوِّدِ الْقُرَآنَ آثِمُ

لأَنَّـــــهُ  بِـــهِ  الإِلَــــهُ  أَنْــــــــزَلاَ  ۞ وَهَكَذَا مِنْهُ إِلَيْنَا وَصَلاَ

“Adapun menggunakan tajwid adalah wajib hukumnya, maka barang siapa yang membaca al-Qur’an tanpa tajwid adalah berdosa, karena Allah menurunkan al-Qur’an dengan tajwid. Demikianlah yang sampai kepada kita adalah dari Allah (dengan secara mutawwatir).”

Allah swt juaga memerintahkan agara membaca Al-Qur’an dengan tajwid.

    وَرَتِّلِ ٱلقُرْءَانَ تَرْتِيْلاً 

Artinya: “Dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan”. (Al-Muzammil ayat 4).

Sabda Rasulullah saw.

جَوِّدُ الْقُرْآنَ فَإِنَّ التَّجْوِيْدَ حِلْيَةُ الْقِرَاءَةِ  

Artinya: “Baguskanlah bacaan al-Qur’an, maka sesungguhnya membaguskan bacaan al-Qur’an itu hiasan qira’at (bacaan).” (HR. Turmudzi).

Dalam Sunan An-Nasa’i dan Ad-Darimi serta Al-Mustadrak Al-Hakim dari Barra’ r.a. berkata: “Saya mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

حَسِّنُوْا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ فَإِنَّ الصَّوْتَ الْحَسَنَ يَزِيْدُ الْقُرْآنَ حُسْنًا

Lihat Juga : Harga ready Mix