Al Mumit Artinya

Diposting pada
4.5/5 - (234 votes)

Al Mumit Artinya

Pengeritan Al Mumit

Nama Allah, Al Mumiitu ( المميت ) dibaca Al Mumit termasuk Al-Asma`ul Husna, firman Allah :

  • Dan Dialah yang menghidupkan dan mematikan, dan Dialah yang (mengatur) pertukaran malam dan siang. Maka apakah kamu tidak memahaminya? (Al-Mu’minum[13]:80)
  • Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan, maka apabila dia menetapkan sesuatu urusan, dia hanya berkata kepadanya:” Jadilah”, maka jadilah ia. (Al-Mu’min [40]:68)
  • Kepunyaan-Nyalah kerajaan langit dan bumi, dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.(Al-Hadiid [57]:2)

Baca Juga : Al Hafiz Artinya

Makna Kata Al Mumit

Nama Allah, Al Mummiitu bermakna Yang mencabut kehidupan dari makhluk-makhluk_Nya yang hidup atau yang mematikan.

Al-Mumit artinya Yang Maha Mematikan. Dia lah yang menghidupkan dan Dia pula yang mematikan. Hanya Allah yang mempunyai hak untuk mematikan. Tidak ada yang bisa menolak kematian ketika Allah sudah berkehendak.

Jika meyakini sifat Al-Mumit maka kita harus mempersiapkan kematian agar tetap dalam keadaan iman. Yaitu dengan cara:

  1.  Mengekang hawa nafsu untuk tidak melanggar larangan-larangan Allah
  2. Ikut menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar
  3. Membunuh semua perilaku buruk yang ada pada diri kita.
  4. Mengorbankan kepentingan pribadi dan lebih mengutamakan kepentingan umum

Menciptakan dan menghidupkan ciptaan-Nya mudah bagi Allah, apalagi membuat ciptaan-Nya wafat, mati ataupun hancur sebagaimana sediakala dan hanya kepada-Nyalah segala sesuatu dikembalikan, karena memang Dia Yang Maha Menghidupkan dan yang Maha Mematikan;

Baca Juga : Al Kabir Artinya

”Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan dan hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.”[Yunus 10;56]

Al Mumit merupakan salah satu dari nama-nama Allah yang terkandung dalam asmaul husna. Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan ditanya : Apakah ada ketetapan di dalam syari’at tentang pembatasan jumlah al-asma al-husna (nama-nama Allah yang baik) ? Apakah mungkin menyebutkannya ? Dan apa pula nama Allah yang teragung ?

Jawaban.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman. “Artinya : Hanya milik Allah asma al-husna, maka bermohonlah kepadaNya dengan menyebut asmaa-ul husan itu” [Al-A’raf : 180] “Artinya : Dia mempunyai al-asma-ul husna (nama-nama yang baik)” [Thaha : 8]

Nama-nama Allah yang husna (baik) tidak diketahui berapa jumlahnya, kecuali hanya Allah sajalah yang mengetahuinya.Di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah tidak terdapat pembatasan atas hal itu.Tetapi mungkin saja menentukan jumlah yang tedapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.Sebagian ulama telah menghimpun sebagian besarnya di dalam kitab.

Adapaun nama Allah yang paling mulia adalah yang terdapat pada dua ayat berikut ini. “Artinya : Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (mahlukNya)..” [Al-Baqarah ; 255]“Artinya : Alif Laam Miim. Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus mahlukNya” [Ali Imran : 1-2]

Demikian pula terdapat pada ayat ketiga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala surat Thaha ayat 11. Sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Katsir di dalam tafsirnya.

Baca Juga : Al Aliy Artinya

Di dunia ini, menurut al-Ghazali, tak ada yang pasti, kecuali kematian.Hanya kematian yang pasti, lainnya tak ada yang pasti.Namun, manusia tak pernah siap menghadapi maut dan cenderung lari darinya.

“Sesungguhnya, kematian yang kamu lari daripadanya, sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu.” (QS Al-Jumu’ah 62: 8).

Bagi al-Ghazali, kematian tidak bermakna tiadanya hidup (nafi al-hayah), tetapi perubahan keadaan (taghayyur hal).Dengan kematian, hidup bukan tidak ada, melainkan bertransformasi dalam bentuknya yang lebih sempurna.Diakui, banyak orang semasa hidup mereka tertidur (tak memiliki kesadaran), tetapi justru setelah kematian, meraka bangun (hidup).”Al-Nas niyam, fa idza matu intabihu,” demikian kata Imam Ali.

 Dalam Alquran, ada beberapa istilah yang dipergunakan Allah SWT untuk mengartikan kematian.

Pertama, kata al-maut  (kematian) itu sendiri. Kata ini dalam bentuk kata benda diulang sebanyak 35 kali.Al-maut menunjuk pada terlepasnya (berpisah) ruh dari jasad manusia.Kepergian ruh membuat badan tak berdaya dan kemudian hancur-lebur menjadi tanah.

Allah SWT berfirman;

 “Darinya (tanah) itulah Kami menciptakan kamu dan kepadanyalah Kami akan mengembalikan kamu, dan dari sanalah Kami akan mengeluarkan kamu pada waktu yang lain.” (QS Thaha 20: 55).

Baca Juga : As Syakur Artinya

Kedua, kata al-wafah (wafat). Kata ini dalam bentuk fi`il diulang sebanyak 19 kali. Al-Wafah memiliki beberapa makna, antara lain sempurna atau membayar secara tunai. Jadi, orang mati dinamakan wafat karena ia sesungguhnya sudah sempurna dalam menjalani hidup di dunia ini. Oleh sebab itu, kita tak perlu berkata, sekiranya tak ada bencana alam si fulan tidak akan mati.

Ketiga, kata al-ajal.Kata ini dalam Alquran diulang sebanyak 21 kali.Kata ajal sering disamakan secara salah kaprah dengan umur.Sesungguhnya, ajal berbeda dengan umur. Umur adalah usia yang kita lalui, sedangkan ajal adalah batas akhir dari usia (perjalanan hidup manusia) di dunia. Usia bertambah setiap hari; ajal tidak. (QS Al-A’raf [7]: 34).

“tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; Maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya

Keempat, kata al-ruju’ (raji’).Kata ini dalam bentuk subjek diulang sebanyak empat kali, dan mengandung makna kembali atau pulang.Kematian berarti perjalanan pulang atau kembali kepada asal, yaitu Allah SWT. Karena itu, kalau ada berita kematian, kita baiknya membaca istirja’, Inna Lillah wa Inna Ilaihi Raji’un  (QS Al-Baqarah 2: 156).

“(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”.[Dr A Ilyas Ismail, Ingatlah Saat Kematian Mu!REPUBLIKA.CO.IDKamis, 11 November 2010, 10:53 WIB]

Sangat mudah bagi Allah untuk mematikan hamba-Nya, banyak cara yang terjadi untuk mengakhiri kehidupan makhluk di dunia ini seperti diturunkan-Nya musibah dan bencana, banjir yang menewaskan korban sekian banyak, gempa dengan tsunami yang memporakporandakan sebuah negarapun bisa terjadi, longsor yang meluluh lantakkan sebuah perkampungan,

Baca Juga ; Al Ghafur Artinya

gunung meletus dengan debu yang mematikan dan lahar yang menghancurkan sarana kehidupan, angin kencang yang menjungkirbalikkan pertanian dan perikanan, kapal yang terbakar, pesawat yang jatuh, serta sekian  banyaknya alat dan cara yang mengakhiri kehidupan makhluk di dunia ini, tak satupun makhluk yang bisa lari dari kematian, semuanya akan berakhir sesuai dengan ajal dan ketentuannya.

Bagaimana Allah mengakhiri kehidupan kaum Nabi Nuh, Nabi Shaleh dan nabi Luth, sangat mudah sekali dan waktu yang tidak begitu lama menelan korban tidak sedikit, melalui azab dan musibah sangat efektif sekali bagi Allah mematikan hamba-Nya sebagaimana firman-Nya dalam Al Qur’an;

Allah  melaksanakan janjinya dengan membinasakan orang-orang yang kafir kepada Nabi Nuh a.s. dan menyelamatkan orang-orang yang beriman, proses kematian ummat ketika itu melalui air bah yang datang dari berbagai arah dan merendam orang-orang kafir hingga binasa;

Baca Juga : Al Azim Artinya

“dan difirmankan: “Hai bumi telanlah airmu, dan Hai langit (hujan) berhentilah,” dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: “Binasalah orang-orang yang zalim .”[Huud 11;44]