Mad Shilah Qashirah : Pengertian, Kaidah, Contoh, dan Cara Melatih Bacaan

Religius68 Views

Mad Shilah Qashirah adalah salah satu materi tajwid yang sering muncul dalam bacaan Al Quran namun kerap terlewat saat berlatih. Artikel ini memandu Anda memahami definisi, syarat, contoh ayat, perbedaan dengan Mad Shilah Tawilah, serta latihan praktis agar bacaannya terdengar rapi dan konsisten sesuai kaidah.

“Menurut saya, menguasai Mad Shilah Qashirah membuat aliran bacaan menjadi lebih halus sekaligus menjaga makna. Ia kecil secara durasi, tetapi besar dalam dampak keindahan.”

Apa Itu Mad Shilah Qashirah

Secara sederhana, Mad Shilah Qashirah adalah pemanjangan suara huruf mad sepanjang 2 harakat yang terjadi pada huruf ha’ kinayah. Ha’ kinayah di sini adalah ha’ pronomina pihak ketiga tunggal dalam kata ganti orang yang berarti dia atau miliknya. Pemanjangan ini muncul ketika ha’ berada di antara dua huruf yang berharakat dan setelahnya tidak diikuti hamzah saat sambung bacaan.

Asal Istilah dan Variasi Penulisan

Istilah ini sering ditulis sebagai Mad Shilah Qashirah, Mad Shilah Qasirah, atau Shilah Qashirah. Semuanya merujuk pada makna yang sama, yakni shilah pendek. Kata shilah bermakna sambung, sedangkan qashirah bermakna pendek.

Hubungan Dengan Ha’ Kinayah

Kaidah ini khusus berlaku pada ha’ kinayah yang berharakat kasrah atau dhommah dan menunjukkan makna kepemilikan atau rujukan ke pihak ketiga tunggal. Ia berbeda dengan ha’ yang merupakan bagian asli dari kata dasar. Fokusnya adalah ha’ pronominal seperti pada kata bihi, lahu, fihi, ilayhi, yadihi dan sejenisnya.

Syarat Terjadinya Mad Shilah Qashirah

Untuk memastikan Anda tidak keliru, pahami tiga syarat utama berikut ini. Jika ketiganya terpenuhi, maka terjadi Mad Shilah Qashirah dan dibaca panjang 2 harakat.

  1. Huruf ha’ adalah ha’ kinayah yang bermakna dia atau miliknya, bukan ha’ asli kata.
  2. Ha’ berharakat kasrah atau dhommah sehingga bunyinya hi atau hu.
  3. Ha’ berada di antara dua huruf berharakat saat disambungkan, dan setelahnya tidak ada hamzah yang dibaca ketika sambung.

Apabila salah satu syarat tidak terpenuhi, maka tidak dihukumi Shilah Qashirah.

Tanda di Mushaf Madani

Pada sebagian mushaf, Anda dapat mendapati tanda kecil menyerupai waw kecil atau ya kecil setelah ha’. Tanda ini menandai adanya shilah saat sambung bacaan. Walau tidak semua mushaf menampilkannya, kaidah tetap berlaku berdasarkan kondisi fonetiknya saat dibaca sambung.

Panjang Bacaan

Panjangnya adalah 2 harakat yang lazim disetarakan dengan satu alif. Penting diingat, bila berhenti di ha’ kinayah saat waqaf sehingga ha’ menjadi sukun, maka shilah gugur. Tidak ada mad ketika berhenti karena syarat bersambungnya tidak terpenuhi.

Perbedaan Mad Shilah Qashirah dan Mad Shilah Tawilah

Banyak pembelajar mencampuradukkan Shilah Qashirah dengan Shilah Tawilah. Keduanya sama sama terjadi pada ha’ kinayah dan butuh sambung bacaan, tetapi berbeda pemicu dan ukurannya.

Pemicu dan Ukuran

Pada Shilah Qashirah, setelah ha’ tidak ada hamzah. Ukuran bacaan adalah 2 harakat. Pada Shilah Tawilah, setelah ha’ ada hamzah ketika disambung. Ukurannya lebih panjang, lazimnya 4 sampai 5 harakat sesuai riwayat yang diajarkan oleh guru.

Contoh Cepat Membedakan

Perhatikan dua contoh pola berikut.

  • Qashirah: lahu ma fis samawati. Setelah ha’ pada lahu, huruf berikutnya bukan hamzah. Maka bacanya 2 harakat.
  • Tawilah: bihi adza. Setelah ha’ pada bihi terdapat hamzah pada kata adza. Maka bacanya lebih panjang sesuai riwayat yang dipakai.

Contoh Ayat Mad Shilah Qashirah

Bagian ini menampilkan pola praktis agar Anda terbiasa menangkap kemunculannya. Fokuskan telinga pada ha’ kinayah dan huruf setelahnya.

له ما في السماوات وما في الأرض

Transliteration: lahu ma fis samawati wa ma fil ardh.
Analisis: ha’ pada lahu berharakat dhommah. Setelahnya huruf mim berharakat. Tidak ada hamzah saat sambung. Ini Qashirah 2 harakat.

ذلك الكتاب لا ريب فيه هدى للمتقين

Transliteration: dhalikal kitabu la rayba fihi huda lil muttaqin.
Analisis: ha’ pada fihi berharakat kasrah. Setelahnya huruf ha pada huda dengan hamzat washl yang gugur saat sambung. Ini Qashirah 2 harakat.

تبارك الذي بيده الملك

Transliteration: tabarakalladhi biyadihil mulk.
Analisis: ha’ pada yadihi berharakat kasrah. Setelahnya alif lam qamariyah yang dibaca lam tanpa hamzah di awal saat sambung. Ini Qashirah 2 harakat.

إنه هو السميع البصير

Transliteration: innahu huwa as sami’ul basir.
Analisis: ha’ pada innahu berharakat dhommah. Setelahnya huruf ha pada huwa. Tidak ada hamzah setelah ha’ kinayah. Ini Qashirah 2 harakat.

وإليه المصير

Transliteration: wa ilayhi al masir.
Analisis: ha’ pada ilayhi berharakat kasrah. Setelahnya alif lam ma’rifah dengan hamzat washl yang tidak dibaca saat sambung. Ini Qashirah 2 harakat.

Catatan penting, saat berhenti di kata yang memuat ha’ kinayah seperti lahu atau fihi, Anda tidak menerapkan shilah karena kondisi sambung terputus. Maka bacalah secukupnya sesuai hukum waqaf.

Cara Cepat Mengidentifikasi di Lapangan

Bila waktu terbatas, gunakan strategi empat langkah berikut saat tilawah.

  1. Temukan ha’ yang berfungsi sebagai kata ganti orang ketiga tunggal.
  2. Cek apakah ha’ itu berharakat kasrah atau dhommah. Bila sukun, tidak terjadi shilah.
  3. Lihat huruf setelahnya saat sambung. Jika huruf setelahnya bukan hamzah yang terbaca ketika sambung, berarti Qashirah.
  4. Panjangkan 2 harakat saja. Jaga konsistensi tempo agar bacaan stabil dan tidak melebar menjadi 4 atau lebih.

Strategi sederhana ini terbukti efektif untuk menjaga ritme bacaan tanpa harus terus menerus melihat catatan.


Kesalahan Umum dan Cara Menghindarinya

Memahami titik rawan akan mempercepat perbaikan bacaan. Berikut beberapa kesalahan yang sering muncul.

Menambah Panjang Melebihi 2 Harakat

Karena terbawa suasana, pembaca kadang memanjangkan Shilah Qashirah seukuran Shilah Tawilah. Solusinya, gunakan metronom internal. Hitung dua ketukan halus di dalam hati untuk setiap Qashirah dan hentikan sebelum melebar.

Melakukan Shilah Saat Waqaf

Shilah adalah hukum saat sambung. Jika Anda berhenti di ha’ kinayah, maka tidak ada mad. Latih pola bernapas agar mampu menyambung di tempat yang aman, atau putuskan sejak awal untuk berhenti di posisi yang tepat tanpa memaksakan shilah.

Salah Objek Ha’

Sebagian pembelajar menerapkan shilah pada ha’ yang bukan kinayah, misalnya ha’ asli bagian kata. Pastikan fungsi ha’ adalah pronomina. Tanyakan ke guru bila ragu, dan bandingkan dengan terjemahan untuk mengecek fungsi kata ganti.

Latihan Praktis Terstruktur

Latihan yang sistematis akan memantapkan pendengaran dan reflek lidah. Gunakan tiga tahap berikut selama seminggu.

Tahap 1 Pengenalan Bunyi

Ambil daftar kata yang pasti Qashirah seperti lahu, fihi, ilayhi, bihi, yadihi. Baca sambung dengan kata berikutnya yang tidak berawalan hamzah. Rekam suara Anda. Pastikan durasi 2 harakat setara dengan satu alif konsisten di seluruh contoh.

Tahap 2 Drill Pola Ayat

Pilih satu halaman mushaf yang banyak memuat ha’ kinayah. Tandai setiap kemunculan. Baca perlahan sambil mengetuk meja dua kali untuk setiap Qashirah. Ketukan membantu menjaga tempo agar tidak menyimpang.

Tahap 3 Simulasi Tilawah

Baca satu ruku’ tanpa berhenti kecuali di tempat waqaf yang benar. Mintalah teman atau guru mendengarkan dan memberikan koreksi pada semua shilah yang Anda terapkan. Ulangi sampai durasi 2 harakat terdengar natural tanpa perlu menghitung secara sadar.


Pertanyaan yang sering ditanyakan (FAQ)

Bagian ini merangkum pertanyaan yang sering muncul saat mempelajari materi ini.

Apakah setiap ha’ kinayah otomatis Shilah Qashirah

Tidak. Shilah Qashirah hanya terjadi jika setelah ha’ tidak ada hamzah saat sambung. Jika setelahnya ada hamzah, maka menjadi Shilah Tawilah. Jika berhenti di ha’ atau setelah ha’ tidak berharakat ketika sambung, maka tidak ada shilah.

Berapa standar panjang Shilah Qashirah

Standarnya 2 harakat. Ukuran ini harus dijaga konsisten di semua tempat agar bacaan rapi.

Bolehkah menambah panjang untuk memperindah suara

Tidak disarankan. Keindahan dalam tajwid adalah mengikuti aturan. Memperindah suara boleh selama tidak melanggar ukuran yang telah ditetapkan.

Apakah tanda kecil seperti waw kecil selalu ada

Tidak selalu. Beberapa mushaf tidak menuliskan tanda tersebut. Karena itu, kemampuan mendengar struktur sambung putus dan memahami syarat hukum jauh lebih penting dibanding sekadar bergantung pada tanda.

Rekomendasi Pola Belajar

Untuk pemula, kombinasikan teori dan praktik singkat setiap hari. Luangkan 10 sampai 15 menit membaca ayat yang banyak memuat ha’ kinayah, kemudian 5 menit untuk mendengarkan qari yang bacaan tajwidnya jelas. Bandingkan durasi shilah Anda dengan qari tersebut. Bila memungkinkan, mintalah koreksi langsung dari guru dan catat titik yang paling sering salah. Dengan pola ini, pemanjangan 2 harakat akan cepat menjadi kebiasaan.

Pada akhirnya, Mad Shilah Qashirah bukan hanya perkara memanjangkan suara sebentar. Ia adalah seni memastikan alur bunyi tetap mulus, makna terjaga, dan keindahan tilawah hadir tanpa berlebih. Latih sedikit setiap hari, dan Anda akan merasakan perbedaan kualitas bacaan dari minggu ke minggu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *