Wa Iyyaki Artinya : Makna dan Tata Bahasa !

Religius78 Views

Ungkapan “wa iyyaki” cukup sering muncul dalam percakapan Muslimah, terutama ketika saling mendoakan atau berterima kasih. Meski terlihat sederhana, frasa ini punya kaidah bahasa Arab yang menarik dan konteks pemakaian yang spesifik. Artikel ini mengupas arti, penulisan Arab, perbedaan bentuk untuk lawan bicara laki-laki dan jamaah, sampai contoh percakapan sehari-hari agar pembaca tidak salah kaprah.

“Sebagai penulis, saya merasa ‘wa iyyaki’ adalah contoh bagaimana kesantunan dalam bahasa Arab tidak sekadar terjemahan, tetapi juga perhatian pada siapa yang diajak bicara.”

Apa Arti “Wa Iyyaki” dalam Bahasa Indonesia

Secara harfiah, “wa iyyaki” berarti “dan kepadamu juga” atau “dan untukmu juga” yang ditujukan kepada satu perempuan. Frasa ini biasanya dipakai sebagai balasan doa atau ucapan kebaikan, misalnya saat seseorang berkata “jazakillahu khairan” yang berarti “semoga Allah membalasmu (perempuan) dengan kebaikan.” Menjawabnya dengan “wa iyyaki” menyiratkan doa balasan yang sama.

Dalam percakapan santai, “wa iyyaki” sering dipahami sebagai “sama-sama” namun nuansanya lebih religius karena berakar dari bentuk doa atau kebaikan yang disebutkan lebih dulu.

Penulisan Arab dan Transliterasi yang Benar

Bentuk Arab yang benar adalah وَإِيَّاكِ dengan transliterasi “wa iyyāki.” Huruf panjang “ā” menandai mad pada “iyyā.” Di akhir kata terdapat “-ki” yang menunjukkan pronomina objek untuk perempuan tunggal.

Beberapa variasi penulisan yang sering ditemui di dunia maya antara lain “wa iyyaki,” “wa iyyāki,” dan “wayyaki.” Selama makna dan adresatnya tepat, variasi ini dapat dipahami, tetapi penulisan Arab yang baku tetap وَإِيَّاكِ.

Kaitan dengan Ungkapan Doa dan Ucapan Terima Kasih

Dalam budaya tutur Muslim, doa sering menjadi respons terbaik untuk kebaikan orang lain. Karena itu, “wa iyyaki” paling pas dipakai sebagai jawaban atas frasa doa. Contoh yang umum adalah:

  • “Jazakillahu khairan” direspons “wa iyyaki”
  • “Barakallahu fiki” direspons “wa fiki barakallah” atau “wa iyyaki”
  • “Syukran” lazimnya direspons “afwan,” bukan “wa iyyaki,” karena “syukran” adalah “terima kasih,” sedangkan “afwan” berarti “sama-sama” atau “maaf.” Meski demikian, pada konteks doa yang menyertai terima kasih, “wa iyyaki” masih dapat digunakan jika sebelumnya memang ada doa yang diucapkan.

Intinya, “wa iyyaki” adalah balasan doa. Bila lawan bicara hanya mengucapkan terima kasih tanpa doa, jawaban yang paling netral adalah “afwan.”

Variasi Sesuai Lawan Bicara

Bahasa Arab membedakan bentuk pronomina sesuai gender dan jumlah. Berikut variasi yang sering dipakai sebagai balasan doa “dan untukmu juga.”

  • Wa iyyāka: وَإِيَّاكَ untuk laki-laki tunggal
  • Wa iyyāki: وَإِيَّاكِ untuk perempuan tunggal
  • Wa iyyākumā: وَإِيَّاكُمَا untuk dua orang
  • Wa iyyākum: وَإِيَّاكُمْ untuk jamak laki-laki atau campuran
  • Wa iyyākunna: وَإِيَّاكُنَّ untuk jamak perempuan

Memilih bentuk yang tepat menunjukkan ketelitian dan penghormatan kepada lawan bicara. Dalam grup campuran, bentuk paling aman adalah “wa iyyākum.”

Sekilas Tata Bahasa: Apa Itu “Iyyā-”

Komponen “iyyā-” dalam bahasa Arab berfungsi sebagai penanda objek pronominal yang ditempelkan sufiks pronomina orang kedua, misalnya “-ka,” “-ki,” “-kum.” Struktur ini juga muncul pada ayat Al Fatihah “iyyāka na‘budu” yang berarti “Hanya kepada-Mu kami menyembah.” Pada “wa iyyaki,” pola yang sama digunakan, bedanya sasaran pronomina adalah manusia perempuan tunggal yang diajak bicara.

Contoh Percakapan Sehari-hari

Memahami konteks akan memudahkan pemakaian yang alami. Berikut contoh sederhana dalam bahasa Arab dan padanan Indonesianya.

Balasan doa:

A: جزاكِ اللهُ خَيْرًا يا أختي
“Jazakillahu khairan ya ukhti.”
B: وَإِيَّاكِ
“Wa iyyaki.”

Dalam percakapan campuran:

A: جزاكم الله خيرًا جميعًا
“Jazakumullahu khairan jami‘an.”
B: وَإِيَّاكُمْ
“Wa iyyakum.”

Saat mengucap terima kasih disertai doa:

A: شكرًا لكِ، بارك الله فيكِ
“Syukran laki, barakallahu fiki.”
B: وَفِيكِ بَارَكَ اللهُ، وَإِيَّاكِ
“Wa fiki barakallah, wa iyyaki.”

Perbedaan “Wa Iyyaki” dan “Afwan”

Keduanya kerap dipakai sebagai balasan, tetapi fungsinya tidak selalu sama. “Afwan” lebih netral untuk menjawab “syukran.” “Wa iyyaki” lebih tepat untuk membalas doa atau ungkapan kebaikan yang bernuansa religius. Pada komunikasi digital, orang kadang menjawab “terima kasih” dengan “wa iyyaki.” Ini tidak salah sepenuhnya, terutama jika sebelumnya ada doa, namun pemilihan “afwan” biasanya lebih pas untuk konteks sekuler.

Ejaan yang Sering Keliru dan Cara Meluruskannya

Bentuk yang sering keliru antara lain “waiyaki” tanpa spasi dan tanpa mad, atau “wa iyyaka” untuk menyapa perempuan. Solusinya adalah memastikan sufiks sesuai lawan bicara. Jika menyapa perempuan, gunakan “-ki,” sedangkan laki-laki gunakan “-ka.”

Untuk menghindari salah eja, ingat pola sederhana berikut. “Iyyā” tetap, yang berubah hanya akhiran pronomina:

  • Perempuan tunggal “-ki”
  • Laki-laki tunggal “-ka”
  • Jamaah campuran “-kum”

Ringkas Panduan Praktis

  • Gunakan “wa iyyaki” ketika membalas doa kepada perempuan tunggal
  • Gunakan “wa iyyāka” untuk laki-laki, “wa iyyākum” untuk banyak orang
  • Balas “syukran” dengan “afwan,” kecuali ada doa yang menyertai
  • Tulis Arabnya وَإِيَّاكِ untuk bentuk perempuan tunggal

Tabel Singkat Variasi dan Artinya

Bentuk ArabTransliterasiDipakai untukTerjemahan ringkas
وَإِيَّاكِwa iyyākiperempuan tunggaldan untukmu juga
وَإِيَّاكَwa iyyākalaki-laki tunggaldan untukmu juga
وَإِيَّاكُمَاwa iyyākumādua orangdan untuk kalian berdua juga
وَإِيَّاكُمْwa iyyākumjamaah campurandan untuk kalian juga
وَإِيَّاكُنَّwa iyyākunnajamaah perempuandan untuk kalian juga

Di ruang digital, kecepatan sering mengalahkan ketelitian. Meski begitu, menjaga bentuk yang tepat akan membuat percakapan terasa lebih hangat. Saat menanggapi kiriman doa dari teman perempuan, “wa iyyaki” memberikan sentuhan personal. Jika di grup, utamakan “wa iyyakum” agar inklusif. Menggabungkan dengan sapaan seperti “ukhti” atau “akhi” juga menambah kesantunan.

Tata bahasa Arab, tradisi mendoakan

“Wa iyyaki” bukan sekadar padanan “sama-sama.” Ia adalah balasan yang mengandung doa, lahir dari tata bahasa Arab yang rapi sekaligus tradisi saling mendoakan. Dengan memahami bentuk, konteks, dan etika pemakaiannya, kita bisa menjaga kesantunan dalam percakapan, baik langsung maupun di ruang digital. Pada akhirnya, bahasa adalah jembatan kebaikan. Menjawab doa dengan doa adalah salah satu cara terbaik untuk merawatnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *