Huruf Athaf

Diposting pada
Athaf (العطف) dalam Bahasa Indonesia biasa disebut pun dengan kata hubung (dan, atau, kemudian, dan sebagainya). Adapun dalam Bahasa Arab Athaf (العطف) terbagi menjadi dua bagian, terdapat yang dinamakan athaf nasaq dan athaf bayan. Hanya saja, yang paling tidak sedikit ditemui dalam tata bahasa arab ialah athaf nasaq, adapun Athaf Bayaan paling jarag sekali digunakan.

Pengertian Athaf Nasaq

Baca Juga : Na’at Man’ut

Ataf Nasaq

Pengertian athaf nasaq :

التَّابِعُ المُتَوَسِّطُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ مَتْبُوْعِهِ اَحَدُ حُرُفِ العَطْفِ

“athaf yang diantara tabi’ (kata yang mengekor kata lainnya/Ma’thuf) dan matbu’nya (kata yang diikuti/Ma’thuf ‘Alaih) terdapat di antara huruf-huruf athaf”.

Contoh :

َاِشْتَرَيْتُ المَنْزِلَ وَ السَّيَّارَةَ “Saya melakukan pembelian rumah dan mobil”

Perhatikan kata المَنْزِلَ dan السَّيَّارَةَ, dua-duanya memiliki status i’rob yang sama yakni nashob, mengapa begitu? karena salah satu keduanya terdapat huruf yang membuat dua-duanya harus dibaca sama dan mesti memiliki status i’rob yang sama yakni huruf Athaf berupa huruf wawu “وَ”.

Istilah dalam bab athof:
Ma’tuf
Ma’tuf ‘Alaih
Huruf Athaf

اِشْتَرَيْتُ المَنْزِلَ وَ السَّيَّارَةَ
Dari misal  diatas dapat anda  ketahui bahwa (المَنْزِلَ) sebagai Ma’thuf alaih sebab  yang disambungi, sementara  (السَّيَّارَةَ) sebagai Ma’thuf sebab  yang menyambungkan.

2. Pengertian Athaf Bayan

Baca Juga : MACAM-MACAM LAM

dari athaf bayan merupakan :

التَّابِعُ الجَامِدُ المُشَبِّهُ لِلصِّفَةِ فِى اِيْضَاحِ مَتْبُوْعِهِ وَ عَدَمِ اسْتِقْلَالِهِ

Artinya : kalimat isim jamid yang mengekor matbu’nya, yang serupa sifat dalam segi menyatakan matbu’nya tanpa terdapat perantara huruf athaf.

Contoh :

جَاءَ اَبُو بَكْرٍ

3. Huruf-huruf Athaf

Di bawah ini adalah kumpulan huruf athaf dalam bahasa Arab:

a. Wawu (وَ)

وَاوُ = مُطْلَقُ الجَمْعِ
Artinya huruf و ini mempunyai fungsi untuk menyelaraskan taabi’ dan matbu’nya, maka disebut juga dengan mutlaqul jam’i. Atau bahasa gampangnya Kata yang mengikuti sama dengan kata yang diikuti dalam kedudukan dan i’rabnya.
Contoh:
ذَهَبَا مُحَمَّدٌ وَ زَيْدٌ إِلَى المَسْجِدِ     “Muhammad dan Zaid berangkat ke Masjid”
kata  مُحَمَّدٌ dan  زَيْدٌ mempunyai kedudukan i’rab yang sama, yaitu rofa’ dengan dibaca dhommah di akhir kata.b. Fa (فَ)
Baca Juga : Jamak Taksir
فَاء = تَرْتِيْب اِتِّصَالْ
Artinya huruf ف ini mempunyai fungsi untuk menunjukan pekerjaan yang langsung dilakukan saat itu juga (tanpa jeda). dan lagi-lagi karena ini adalah huruf athaf maka antara taabi’ dan matbu’nya mempunyai kedudukan i’rob yang sama.
Contoh:
حَضَرَ الطَالِبُ فَــالمُدَرِّسُ  “Siswa telah datang lalau diikuti oleh guru (datang)”
Kata الطَالِبُ dan المُدَرِّسُ mempunyai kedudukan i’rob yang sama, yaitu rofa’ dengan dibaca dhommah di akhir kata.c. Tsumma (ثُمَّ)
ثُمَّ = تَرْتِيْب اِنْفِصَال
Artinya huruf ثُمَّ mempunyai fungsi untuk menunjukan pekerjaan yang berlangsung secara berurutan tapi jedanya lebih lama (beberapa saat/waktu kemudian).
Contoh;
جَاءَ عُمَرٌ ثُمَّ زَيْدٌ  “Umar datang kemudian Zaid juga datang”
Kata عُمَرٌ dan زَيْدٌ  adalah dua kata yang memiliki kedudukan yang sama yaitu rofa’ dengan dibaca dhommah di akhir kata.d. Au (اَوْ)
اَوْ = لِلتَّخْيِيْر
Artinya huruf اَوْ mempunyai fungsi untuk menunjukan pilihan lain selain yanng sudah disebut atau bisa juga menunjukan arti kebalikannya, dalam Bahasa Indonesia biasa diterjemahkan dengan kata ‘atau’.
Contoh:
  خُذِ الكِتَابَ أَوِ القِرْطَاسَ  “Ambilkan buku atau kertas”
Kata الكِتَابَ dan  القِرْطَاسَ mempunyai kedudukan yang sama dalam i’rob yaitu nashob dengan dibaca fathah di akhir kata.

e. Am (اَمْ)
Baca Juga : Asmaul Khomsah
اَمْ = لِلتَّخْيِيْر مُعَادَلَةْ
sama halnya dengan huruf sebelumnya اَمْ juga mempunyai arti untuk menunjukan pilihan.
Contoh:
 أَ زَيْدٌ حَضَرَ أمْ خَالِدٌ؟ “Apakah Zaid atau Kholid yang datang?”
kata زَيْدٌ dan خَالِدٌ mempunyai yang sama dalam i’rob, yaitu rofa’ dengan dibaca dhomah.f. Bal (بَلْ)
بَلْ = اِضْرَبْ اِنْتِقَال
Huruf  بَلْ mempunyai arti untuk melebihkan sesuatu, dalam Bahasa Indonesia biasa diterjemahkan dengan ‘bahkan’.
Contoh:
جَاءَ عُمَرٌ بَلْ زَيْدٌ  “Umar datang bahkan Zaid juga datang”
g. Laa Nafi (لاَ = نَفِى)
لاَ = نَفِى
menunjukan arti berlawanan antara taabi’ dan matbuu’ nya.
Contoh:
جَاءَ عُمَرٌ لَا زَيْدٌ  “Umar yang datang bukan Zaid”h. Lakin (لَكِنْ)
لَكِنْ = اِسْتِدْرَكْ
menunjukan arti yang berbeda dengan kata yang sebelumnya.
Contoh:
جَاءَ عُمَرٌ لَا زَيْدٌ  “Umar yang datang bukan Zaid”i. Hattaa (حَتَّى)
Baca Juga : Tamyiz
حَتَّى = غَايَةْ
menunjukan arti ‘hingga’
Contoh:
أكَلْتُ السَمَكَ حَتَّى رَأسَهُ  ‘Saya memakan ikan hingga kepalanya’

Macam-Macam Athaf

  1. Athaf Bayan.

Athaf bayan adalah tabi’ yang berupa isim jamid dan berfungsi menjelaskan matbu’nya jika berupa isim ma’rifat, dan berfungsi mentakhshis (mengkhususkan) matbu’nya jika berupa isim nakirah. Contoh :  صديد ماء من [3]

  1. Athaf Nasq.

Athaf nasq adalah athaf yang diantara tabi’ dan matbu’nya terdapat salah satu dari sepuluh huruf-huruf athaf. Huruf-huruf tersebut, yaitu :

  •  الواو (dan) huruf ini mutlak digunakan untuk menghubungkan dua kata yang setara, baik berupa isim ataupun berupa fi’il.

Contoh : احمد و محمود جاء

  • الفاء (kemudian) huruf ini berfungsi menunjukan makna tartib (urutan) dan ta’qib (penyusulan). Ta’qib menunjukan bahwa kata yang kedua datang setelah yang pertama tanpa tenggang waktu yang.

Contoh :  فالمشاة الفرسان قدم

  •  ثمّ (kemudian) huruf ini berfungsi menunjukan makna tartib dan tarakhi. Tarakhi berbeda dengan ta’qib dari segi adanya tenggang waktu antara kata pertama dan kedua.

Contoh : السلام و الصلاة عليهم محمّدا ثمّ عيسى ثمّ موسى اللهارسل

  • او (atau) huruf ini berfungsi menunjukan makan takhyir (pilihan) atau ibahah (mubah). Perbedaannya jika takhyir harus memilih salah satu pilihan dan  ibahah boleh memilih kedua pilihan yang ada.

Contoh : النحو  او الفقه  اُدرس

  •  ام (atau) huruf ini berfungsi untuk meminta ta’yin (penentuan sesuatu) dari seseorang. Dan huruf ini terletak pada huruf hamzah istifham.

Contoh : ؟ النحو او الفقه درست ا

  • إمّا (atau) huruf ini dapat digunakan dalam kalimat dengan syarat harus didahului dengan huruf إمّا lainnya dan huruf ini memiliki makna yang sama dengan huruf او (atau).

Baca Juga : Huruf Jar

Contoh : اختها إمّا و هندا إمّا تزوّجْ

  • بل (tetapi) huruf ini digunakan untuk idhrab, yaitu mengalihkan perhatian dari kata yang terletak sebelum بل .

Contohnya :  بكر بل محمّد جاء ما

  •  لا(tidak) huruf ini berfungsi menafikan kesetaraan hukum pada kata yang terletak diantara huruf tersebut.

Contoh : خالد لا بكر جاء

  • لكنّ (akan tetapi) huruf ini menunjukan penetapan suatu hukum (keadaan) pada sebuah kata yang terletak sebelum huruf لكنّ, sekaligus menetapkan kebalikan dari kata yang terletak sesudah huruf tersebut.

 Contoh : المجتحدين لكن الكُسالى احبّ لا

  • حتّى (hingga) huruf ini digunakan untuk At Tadrij (pemberian tahapan) dan Al Ghoyah (penentuan tujuan). Makna At Tadrij adalah dalalah / indikasi berlalunya sesuatu setahap demi setahap.

Contoh : الابياء حتّى الناس يموت


Kaidah Hukum Huruf-Huruf Athaf

Sepuluh huruf di atas mempengaruhi athaf sehingga mengikuti ma’thufnya dalam segi pengi’rabannya di dalam kalimat. Para ‘ulama ahli nahwu menyebutkan ada beberapa kaidah yang harus diperhatikan dalam hukum huruf-huruf athaf , diantaranya yaitu :

1)      فإن كان المتبوع مرفوعا كان التابع مرفوعا

Apabila matbu’nya marfu’ (berada dalam keadaaan rafa’) maka tabi’nya pun harus berada dalam keadaan marfu’. Contoh : قابلني محمّد و خالد

2)      وإن كان المتبوع منصوبا كان التابع منصوبا

Apabila matbu’nya manshub (berada dalam keadaan nashab) maka tabi’nya pun harus berada dalam keadaan nashab. Contoh : قابلتُ محمّدا و خالدا

3)      و إن كان المتبوع مخفوضا كان التابع مخفوضا

Apabila matbu’nya makhfudl (berada dalam keadaan khafadl) maka tabi’nya pun harus berada dalam keadaan khafadl. Contoh : مررتُ بمحمّد و خالد 

4)      و إن كان المتبوع مجزوما كان التابع مجزوما

Apabila matbu’nya majzum (berada dalam keadaan jazm) maka tabi’nya pun harus berada dalam keadaan jazm. Contoh : لم يحضرْ خالد او يُرسلْ رسولا

Baca Juga : Wazan dan Mauzun

Dan dari berbaga contoh-contoh diatas kita dapat mengetahui bahwa isim hanya dapat diathafkan pada isim dan fi’il hanya dapat diathafkan pada fi’il