Prabowo Ungkap Kecintaan pada Sejarah, Pesannya untuk Elite Bangsa Presiden Prabowo Subianto kembali menempatkan sejarah sebagai pintu masuk untuk berbicara tentang arah bernegara. Dalam Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia 2026 di JICC, Senayan, Jakarta, Prabowo menyebut salah satu hobi dan passion dirinya adalah belajar sejarah. Dari sana, ia menarik pelajaran bahwa bangsa yang mampu bangkit adalah bangsa yang para elitenya dapat bekerja sama, bukan tenggelam dalam pertentangan tanpa ujung.
Pernyataan Prabowo di Depan Ribuan Akademisi
Ucapan Prabowo muncul dalam forum yang tidak kecil. Sarasehan Kebangsaan KSTI 2026 digelar di Jakarta International Convention Center pada Jumat, 26 Juni 2026. Forum tersebut diikuti lebih dari 2.600 peserta, terdiri dari 219 rektor, 44 direktur perguruan tinggi vokasi, enam ketua perguruan tinggi, 1.596 dosen, ilmuwan, peneliti, 300 peneliti BRIN, dan lebih dari 635 mitra kolaborasi perguruan tinggi serta Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Di hadapan kalangan kampus itu, Prabowo menyampaikan bahwa sejarah memberi pelajaran panjang tentang naik turunnya bangsa. Ia mengatakan kecintaannya mempelajari sejarah membuatnya melihat pola bahwa negara kuat biasanya ditopang oleh elite yang bisa bekerja sama. DetikEdu mencatat Prabowo menyampaikan kalimat, “salah satu hobi saya, passion saya adalah sejarah,” saat berbicara dalam forum tersebut.
Pernyataan ini menarik karena disampaikan ketika pemerintah sedang mendorong kampus, riset, teknologi, dan industri agar lebih dekat dengan kebutuhan negara. Prabowo tidak hanya berbicara mengenai sejarah sebagai kegemaran pribadi, tetapi juga sebagai bahan baca untuk memahami pilihan politik, pembangunan, pendidikan, dan hubungan antar kelompok elite.
Sejarah sebagai Cara Membaca Bangsa
Bagi Prabowo, sejarah bukan hanya kumpulan tanggal, tokoh, perang, dan pergantian kekuasaan. Ia menjadikan sejarah sebagai bahan untuk membaca mengapa sebuah bangsa dapat berdiri kuat, mengapa sebagian negara gagal, dan mengapa pertentangan elite sering membuat negara kehilangan peluang.
Dalam pidatonya, Prabowo menyebut bangsa yang elitenya bisa bekerja sama akan bangkit, sedangkan bangsa yang elitenya selalu tidak bisa bekerja sama akan sulit mencapai potensi terbaiknya. Pernyataan ini dilaporkan Antara dalam pemberitaan tentang Sarasehan Kebangsaan yang dihadiri 2.600 sivitas akademika dan ilmuwan Indonesia.
Pesan itu terasa ditujukan bukan hanya kepada akademisi, tetapi juga kepada partai politik, birokrasi, dunia usaha, organisasi masyarakat, dan kelompok pemikir. Dalam negara besar seperti Indonesia, kerja sama elite menjadi syarat agar program besar tidak berhenti di tengah jalan. Perselisihan politik boleh terjadi, tetapi bila semua energi habis untuk saling menjatuhkan, rakyat tidak mendapat manfaat apa pun.
“Pernyataan Prabowo soal sejarah menjadi penting karena ia mengingatkan bahwa kecerdasan elite tidak cukup bila tidak disertai kemampuan duduk bersama.”
KSTI 2026 dan Panggung Ilmu Pengetahuan
Forum KSTI 2026 menjadi latar penting dari pernyataan tersebut. Sekretariat Kabinet mencatat Presiden Prabowo secara resmi membuka Sarasehan Kebangsaan KSTI 2026 di JICC. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto melaporkan bahwa kegiatan itu bertujuan memperkuat kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, industri, dan masyarakat agar ilmu pengetahuan menjadi kekuatan dalam pembangunan nasional.
Prabowo memberi penghormatan khusus kepada kalangan kampus. Ia menyebut para guru besar sebagai orang orang terpintar yang dimiliki negara. Menurutnya, inovasi, perubahan, dan kemajuan bangsa sepanjang peradaban manusia selalu lahir dari para pemikir terbaik. Pernyataan itu dimuat Sekretariat Kabinet dalam laporan resmi kegiatan.
Dengan latar tersebut, pembicaraan tentang sejarah tidak berdiri sendiri. Prabowo seperti sedang menghubungkan tiga hal sekaligus, yaitu pelajaran dari peradaban lama, kebutuhan kerja sama elite hari ini, dan peran kampus dalam mencari solusi untuk persoalan nasional.
Pesan untuk Elite Politik
Saat Prabowo berbicara tentang elite yang perlu bekerja sama, pesan itu mudah dibaca sebagai sindiran halus kepada elite politik. Indonesia baru melewati beberapa tahun pemilu yang penuh persaingan keras. Perdebatan politik sering menguras perhatian publik, sementara persoalan pangan, energi, pendidikan, pekerjaan, dan kesehatan tetap menunggu penyelesaian.
Prabowo menegaskan bahwa setiap warga negara pada dasarnya memiliki kecintaan terhadap tanah air meski berasal dari latar belakang berbeda. Ia meyakini selalu ada ruang untuk mencari titik kebersamaan. Pernyataan itu menjadi bagian dari penjelasan Prabowo setelah ia menyebut kegemarannya mempelajari sejarah.
Dalam negara demokrasi, perbedaan pilihan politik tidak bisa dihapus. Namun, perbedaan itu perlu dikelola agar tidak mengganggu jalannya negara. Oposisi tetap diperlukan, kritik tetap sah, dan kontrol publik tetap penting. Tetapi kritik yang sehat berbeda dari pertengkaran yang hanya memecah perhatian.
Demokrasi dan Perselisihan Setelah Pemilu
Prabowo juga mengaitkan pembicaraan sejarah dengan demokrasi. Ia menyebut kedaulatan rakyat diwujudkan melalui demokrasi, dan demokrasi diwujudkan lewat pemilihan. Setelah pemilihan selesai, ia mengajak masyarakat tidak terus tenggelam dalam perselisihan hasil pemilu.
Pernyataan ini sejalan dengan gaya politik Prabowo setelah memimpin pemerintahan. Ia berusaha menempatkan rekonsiliasi sebagai bagian dari stabilitas nasional. Dalam banyak kesempatan, Prabowo menekankan perlunya kerja bersama lintas kelompok, terutama ketika negara lain sedang berlomba memperkuat ekonomi dan teknologi.
Namun, ajakan tidak berselisih tidak boleh dibaca sebagai permintaan agar publik berhenti mengawasi. Demokrasi justru membutuhkan pengawasan. Yang perlu dihindari adalah kebencian politik yang tidak menghasilkan koreksi kebijakan. Pemerintah tetap harus dikritik, tetapi kritik sebaiknya diarahkan pada isi kebijakan, penggunaan anggaran, mutu layanan, dan hasil kerja.
Dunia yang Berperang Menjadi Contoh
Dalam forum itu, Prabowo juga menyinggung keadaan dunia. Ia meminta masyarakat Indonesia tidak menutup mata terhadap perang di Ukraina dan Gaza. Menurut Prabowo, konflik besar seperti itu memperlihatkan betapa berbahayanya elite yang gagal bekerja sama dalam menjaga negara.
Prabowo menyebut perang di Ukraina sudah berlangsung lebih lama daripada Perang Dunia Kedua. Ia juga menggambarkan Gaza berada dalam kehancuran yang sangat berat. Rangkaian contoh tersebut dipakai untuk menegaskan bahwa perpecahan, persaingan elite, dan kegagalan diplomasi dapat membuat rakyat menjadi korban paling besar.
Bagi Indonesia, pelajaran itu terasa relevan. Negara ini memiliki wilayah luas, penduduk besar, perbedaan agama, suku, bahasa, dan kepentingan ekonomi. Jika elite gagal menjaga ketenangan politik, persoalan kecil dapat membesar. Sebaliknya, bila elite mampu menahan diri, negara memiliki ruang lebih besar untuk mengurus kebutuhan rakyat.
Sejarah dan Latar Militer Prabowo
Ketertarikan Prabowo pada sejarah bukan sesuatu yang muncul tiba tiba. Ia berasal dari latar militer, bidang yang sangat dekat dengan studi strategi, perang, diplomasi, dan negara. Di dunia militer, sejarah dipelajari bukan hanya sebagai cerita lama, tetapi sebagai bahan memahami keputusan, kegagalan, kepemimpinan, logistik, disiplin, dan ketahanan sebuah bangsa.
Cara pandang ini terlihat dari pilihan contoh yang ia sampaikan. Prabowo tidak berhenti pada sejarah Indonesia, tetapi juga membaca perang, peradaban, dan pertentangan antarbangsa. Ia kerap menggunakan contoh global untuk menjelaskan kebutuhan Indonesia menjaga persatuan dan memperkuat kemampuan sendiri.
Dalam politik nasional, cara bicara seperti ini memberi warna tersendiri. Prabowo sering menempatkan negara sebagai kapal besar yang membutuhkan awak kuat. Dalam Sarasehan KSTI, ia menyebut keberhasilan sebuah organisasi tidak hanya ditentukan teknologi atau alat, melainkan manusia di baliknya. Sekretariat Kabinet mencatat Prabowo mengibaratkan kecanggihan pesawat akan sia sia bila pilot tidak andal.
Akademisi Ditarik ke Ruang Strategis
Salah satu bagian penting dalam pidato Prabowo adalah penegasan bahwa ia melibatkan banyak profesor dalam posisi strategis pemerintahan. Ia menyebut sejak awal sadar akan peran ilmuwan dan guru besar, sehingga banyak posisi kunci pemerintahan diisi atau melibatkan kalangan akademik.
Pernyataan ini memberi sinyal bahwa Prabowo ingin kebijakan negara lebih banyak bertumpu pada riset, data, dan kepakaran. Dalam Sarasehan KSTI 2026, pemerintah juga membicarakan delapan program riset kolaborasi antara pemerintah dan kampus. Program itu mencakup pengembangan genom pertanian, teknologi pengolahan sampah, riset bensin sawit dan kompor listrik, vaksin TBC, industri garam dan kapal nelayan, hunian vertikal, Giant Sea Wall, serta industri semikonduktor nasional.
Keterlibatan akademisi menjadi penting karena banyak persoalan nasional tidak bisa diselesaikan hanya dengan keputusan administratif. Pangan membutuhkan riset bibit, tanah, irigasi, dan cuaca. Energi membutuhkan teknologi, investasi, dan perhitungan kebutuhan rakyat. Industri membutuhkan tenaga ahli, desain, bahan baku, dan pasar. Kesehatan membutuhkan laboratorium, industri farmasi, data penyakit, dan layanan publik.
Sejarah sebagai Pengingat agar Ilmu Tidak Terpisah dari Negara
Di titik ini, pernyataan Prabowo tentang sejarah bertemu dengan pembicaraan soal ilmu pengetahuan. Ia seperti ingin mengatakan bahwa bangsa yang tidak belajar dari perjalanan panjang manusia akan mudah mengulang kesalahan yang sama. Sementara bangsa yang memanfaatkan ilmu akan memiliki peluang lebih besar untuk berdiri tegak.
Sejarah mengajarkan bahwa kekuatan negara tidak hanya berasal dari jumlah penduduk atau kekayaan alam. Banyak bangsa memiliki sumber daya besar, tetapi gagal mengelolanya. Sebaliknya, ada negara dengan wilayah kecil yang mampu menjadi kuat karena pendidikan, teknologi, tata kelola, dan disiplin sosial.
Indonesia memiliki modal besar, mulai dari sumber daya alam, penduduk muda, lokasi strategis, hingga keberagaman budaya. Tetapi semua modal itu bisa menjadi beban bila tidak dikelola dengan ilmu dan kerja sama. Karena itu, forum seperti KSTI menjadi penting bila benar benar menghasilkan pekerjaan riset yang terhubung dengan kebutuhan negara.
“Sejarah memberi peringatan, kekayaan alam bisa habis, tetapi kemampuan berpikir dan bekerja bersama dapat menjadi tenaga bangsa yang lebih panjang umur.”
Tantangan Membawa Sejarah ke Kebijakan
Walau menarik, menjadikan sejarah sebagai pegangan kebijakan tidak mudah. Sejarah bisa memberi pelajaran, tetapi tidak boleh dipakai secara serampangan. Setiap zaman memiliki keadaan sosial, ekonomi, teknologi, dan hubungan internasional yang berbeda. Pelajaran sejarah harus dibaca dengan hati hati agar tidak berubah menjadi pembenaran politik sepihak.
Prabowo menekankan kerja sama elite sebagai salah satu syarat bangsa bangkit. Namun, kerja sama itu tetap perlu dibedakan dari keseragaman. Negara demokrasi membutuhkan ruang berbeda pendapat. Elite yang bekerja sama bukan berarti semua harus setuju terhadap pemerintah. Yang dibutuhkan adalah kesanggupan menyelesaikan perbedaan tanpa merusak negara.
Dalam praktik pemerintahan, ajakan kerja sama akan diuji lewat keputusan nyata. Apakah kritik publik dihormati. Apakah akademisi diberi ruang bicara jujur. Apakah data yang tidak menyenangkan tetap didengar. Apakah kebijakan diubah bila terbukti keliru. Sejarah hanya berguna bila pemerintah bersedia belajar, bukan hanya meminta rakyat mendengar.
Kampus sebagai Lawan dari Politik Bising
Prabowo memilih menyampaikan pesan ini di depan kampus, bukan di depan forum partai. Pilihan tempat itu memberi kesan bahwa ia ingin akademisi menjadi penyeimbang terhadap politik yang sering bising. Kampus diharapkan tidak hanya menjadi tempat kuliah, tetapi juga ruang yang melahirkan gagasan, koreksi, dan inovasi.
ITS News mencatat pesan Prabowo di KSTI 2026 bahwa perguruan tinggi perlu menjadi motor penggerak solusi bagi persoalan bangsa. Forum itu mengusung tema Strategi Kemandirian Ekonomi dan Kesejahteraan Indonesia, dengan ajakan agar elemen bangsa menyatukan langkah memperkuat kemandirian.
Peran kampus tidak kecil. Dosen, peneliti, rektor, dan mahasiswa dapat membantu negara melalui riset, rekomendasi kebijakan, inovasi produk, kritik berbasis data, serta pendidikan publik. Namun, kampus juga harus menjaga kebebasan akademik. Bila kampus hanya menjadi pengeras suara pemerintah, maka ilmu kehilangan tajamnya.
Dari Passion Pribadi ke Pesan Kenegaraan
Kalimat Prabowo tentang passion belajar sejarah akhirnya menjadi lebih dari pengakuan pribadi. Ia berubah menjadi pesan kenegaraan tentang bagaimana elite seharusnya membaca perjalanan bangsa. Sejarah dipakai untuk mengingatkan bahwa kebangkitan negara memerlukan kerja sama, sedangkan pertikaian elite dapat membuang energi nasional.
Bagi publik, pernyataan itu dapat dibaca dengan dua cara. Pertama, sebagai ajakan agar bangsa tidak terjebak dalam pertentangan yang tidak produktif. Kedua, sebagai janji tidak langsung bahwa pemerintah sendiri harus mau belajar dari sejarah. Kekuasaan yang tidak mau dikoreksi juga memiliki catatan buruk dalam banyak babak sejarah dunia.
KSTI 2026 memberi panggung bagi pesan itu. Di depan ribuan akademisi, Prabowo berbicara tentang sejarah, kerja sama elite, peran ilmuwan, teknologi, dan tujuan negara menghadirkan kehidupan yang layak bagi rakyat. Tugas berikutnya bukan lagi menjelaskan bahwa sejarah penting, melainkan menunjukkan bahwa pelajaran dari sejarah benar benar masuk ke cara pemerintah mengambil keputusan.






