Wimbledon dari 1877, Kisah Turnamen Tenis Tertua yang Menjadi Ikon Dunia Wimbledon berdiri sebagai salah satu panggung olahraga paling terkenal di dunia. Setiap musim panas, lapangan rumput hijau di kawasan SW19, London, menjadi tempat para petenis terbaik mengejar salah satu gelar paling bergengsi dalam tenis. Di balik pertandingan besar, pakaian putih, stroberi dengan krim, dan Centre Court yang selalu penuh penonton, tersimpan perjalanan yang dimulai hampir satu setengah abad lalu.
The Championships pertama kali digelar pada 1877 oleh All England Croquet and Lawn Tennis Club. Hanya 22 pemain yang mengikuti pertandingan tunggal putra pada edisi perdana. Kini Wimbledon menjadi salah satu dari empat turnamen Grand Slam dan merupakan satu satunya Grand Slam yang tetap dimainkan di atas rumput, permukaan asli yang digunakan ketika tenis lapangan mulai berkembang.
Perjalanan dari pertandingan kecil di sebuah klub kroket menuju acara olahraga internasional tidak berlangsung dalam satu malam. Wimbledon melewati dua perang dunia, perubahan aturan tenis, perkembangan teknologi penyiaran, lahirnya era profesional, persaingan para legenda, hingga pembaruan besar pada stadion.
Berawal dari Klub Kroket pada 1868
Sejarah Wimbledon sebenarnya dimulai sebelum turnamen tenis pertama dimainkan. All England Croquet Club didirikan pada 1868 ketika permainan kroket sedang populer di Inggris.
Klub tersebut mempunyai lapangan di Worple Road, Wimbledon. Pada tahap awal, kegiatan utama anggotanya adalah bermain kroket. Tenis lapangan belum menjadi pusat perhatian karena permainan tersebut baru berkembang sebagai olahraga sosial di Inggris pada pertengahan dekade 1870.
Pada 1875, satu lapangan kroket mulai digunakan untuk permainan lawn tennis. Popularitas permainan baru itu meningkat dengan sangat cepat. Setahun kemudian, semakin banyak bagian klub digunakan untuk tenis.
Perubahan tersebut akhirnya mendorong klub mengubah namanya menjadi All England Croquet and Lawn Tennis Club pada April 1877. Dua bulan kemudian, pengurus mengambil keputusan penting yang kemudian mengubah sejarah olahraga dunia, yaitu menyelenggarakan kejuaraan tenis lapangan.
Catatan resmi Wimbledon menyebut sejumlah anggota klub juga menyusun aturan yang digunakan pada turnamen pertama. Beberapa unsur dasar dari aturan itu kemudian ikut menjadi fondasi permainan tenis modern.
Turnamen Pertama Digelar pada Juli 1877
Wimbledon pertama berlangsung pada Juli 1877. Saat itu hanya tersedia nomor Gentlemen’s Singles atau tunggal putra.
Pengumuman kompetisi dimuat melalui majalah The Field. Sebanyak 22 pemain mendaftar dan masing masing membayar biaya masuk satu guinea. Jumlah peserta tersebut sangat kecil bila dibandingkan dengan skala Wimbledon saat ini.
Pertandingan pertama berlangsung di Worple Road. Sekitar 200 penonton hadir untuk menyaksikan final pada 19 Juli 1877.
Spencer Gore, seorang pemain asal Inggris yang juga dikenal sebagai pemain kriket, keluar sebagai juara pertama. Dalam pertandingan final ia mengalahkan William Marshall dengan skor 6 1, 6 2, dan 6 4. Catatan undian resmi Wimbledon masih menyimpan hasil pertandingan tersebut.
Gore menerima hadiah 12 guinea serta Field Cup yang diberikan oleh The Field. Wimbledon mencatat nilai itu hanya sekitar 12,60 pound sterling pada ukuran uang saat itu.
Jumlah hadiah tersebut terasa sangat kecil jika dibandingkan dengan turnamen modern. Pada 2026, juara tunggal putra dan putri masing masing menerima 3,6 juta pound sterling.
“Menurut penulis, daya tarik terbesar sejarah Wimbledon terlihat dari perbedaan skalanya. Pertandingan yang dahulu hanya disaksikan sekitar dua ratus orang kini menjadi salah satu acara olahraga yang ditonton dari berbagai penjuru dunia.”
Aturan Wimbledon Membantu Membentuk Tenis Modern
Turnamen 1877 juga mempunyai peran penting dalam perkembangan aturan permainan. Panitia menyusun ketentuan mengenai ukuran lapangan, net, servis, serta sistem pertandingan.
Lapangan ketika itu ditentukan berbentuk persegi panjang dengan panjang 26 yard dan lebar sembilan yard untuk pertandingan tunggal. Ukuran tersebut kemudian menjadi dasar lapangan yang masih dikenal dalam tenis.
Tinggi net pada edisi pertama berbeda dari aturan sekarang. Net awalnya setinggi lima kaki pada tiang dan tiga kaki tiga inci di bagian tengah. Beberapa tahun kemudian ukuran tersebut disesuaikan mendekati ketentuan yang digunakan sekarang.
Perkembangan aturan tidak berhenti pada satu turnamen. Tenis terus berubah seiring meningkatnya jumlah klub dan kompetisi di Inggris serta negara lain.
Wimbledon kemudian menjadi salah satu rujukan utama karena kejuaraannya digelar secara rutin dan menarik pemain terbaik.
Perempuan Mulai Bertanding pada 1884
Tujuh tahun setelah turnamen pertama, Wimbledon membuka nomor tunggal putri pada 1884. Keputusan tersebut menjadi salah satu tahap terpenting dalam pertumbuhan turnamen.
Maud Watson menjadi juara tunggal putri pertama setelah mengalahkan saudara perempuannya, Lilian Watson. Pada tahun yang sama, nomor ganda putra juga mulai dipertandingkan.
Pertandingan perempuan pada masa tersebut terlihat sangat berbeda dibandingkan tenis modern. Pemain masih menggunakan pakaian panjang yang mengikuti kebiasaan masyarakat era Victoria. Gerak pemain tentu lebih terbatas dibandingkan pakaian olahraga masa kini.
Meski demikian, kehadiran nomor putri membuat Wimbledon berkembang menjadi kompetisi yang semakin luas.
Pada akhir abad ke 19, pemain seperti Lottie Dod menjadi salah satu nama besar. Ia memenangkan beberapa gelar tunggal putri dan memperlihatkan bahwa tenis perempuan mulai mempunyai kelompok penggemar sendiri.
Pemain dari Luar Inggris Mulai Menjadi Juara
Wimbledon pada awalnya sangat didominasi pemain Inggris. Hal itu tidak mengejutkan karena turnamen masih berpusat di sekitar komunitas tenis lokal.
Keadaan mulai berubah pada awal abad ke 20.
May Sutton dari Amerika Serikat menjadi perempuan dari luar Inggris pertama yang memenangkan tunggal putri Wimbledon pada 1905. Dua tahun kemudian, Norman Brookes dari Australia menjadi pemain luar Inggris pertama yang memenangkan gelar tunggal putra.
Kemenangan tersebut menunjukkan bahwa Wimbledon telah berkembang dari kompetisi Inggris menjadi turnamen internasional.
Pada 1907, keluarga kerajaan Inggris juga semakin dekat dengan Wimbledon. Prince of Wales yang kemudian menjadi Raja George V hadir bersama Princess of Wales. Sang pangeran menerima jabatan Presiden klub pada hari yang sama.
Hubungan dengan keluarga kerajaan kemudian menjadi salah satu ciri khas Wimbledon. Royal Box di Centre Court sampai sekarang tetap menjadi bagian terkenal dari turnamen.
Worple Road Tak Lagi Mampu Menampung Penonton
Popularitas tenis terus meningkat pada awal abad ke 20. Kapasitas fasilitas lama di Worple Road akhirnya tidak mampu menangani jumlah pemain dan penonton yang semakin besar.
Pada 1920, All England Club membeli lokasi baru di Church Road. Pembangunan Centre Court dimulai pada September 1921.
Wimbledon 1921 menjadi turnamen terakhir di Worple Road. Pertandingan terakhir di tempat lama ditutup dengan kemenangan besar Suzanne Lenglen, salah satu bintang tenis perempuan paling terkenal pada masanya.
Lokasi baru resmi digunakan pada 1922.
Centre Court dirancang oleh Stanley Peach dengan kapasitas awal sekitar 9.989 kursi dan ruang berdiri untuk sekitar 3.600 orang. Kompleks baru juga memiliki 12 lapangan tambahan.
Raja George V dan Ratu Mary hadir pada hari pembukaan. Hujan bahkan ikut muncul pada hari pertama, sebuah keadaan yang kemudian menjadi begitu identik dengan Wimbledon selama puluhan tahun.
Centre Court Menjadi Simbol Wimbledon
Nama Centre Court awalnya digunakan karena lapangan utama di lokasi lama memang berada di tengah kompleks. Ketika Wimbledon pindah ke Church Road, lapangan baru tetap memakai nama tersebut meski secara geografis tidak lagi berada tepat di pusat area.
Seiring waktu, Centre Court berubah menjadi salah satu stadion paling dikenal dalam olahraga.
Di sinilah final tunggal putra dan putri dimainkan. Lapangan tersebut menjadi saksi kemenangan para petenis dari berbagai generasi.
Banyak momen terkenal terjadi di sana, mulai dari duel panjang, kemenangan pemain Inggris, pertandingan para legenda, hingga perubahan besar dalam gaya permainan tenis.
Centre Court juga mempunyai tradisi unik berupa tulisan dari puisi If karya Rudyard Kipling di jalur masuk pemain. Kalimat tersebut mengingatkan pemain untuk menghadapi kemenangan dan kekalahan dengan sikap yang sama.
Era Fred Perry dan Siaran Televisi BBC
Dekade 1930 membawa perubahan penting lainnya.
Fred Perry menjadi bintang terbesar tenis Inggris ketika memenangkan tiga gelar tunggal putra secara beruntun pada 1934, 1935, dan 1936. Kemenangan pertamanya mengakhiri penantian panjang Inggris untuk mendapatkan juara putra Wimbledon.
Pada 1937, BBC mulai menyiarkan pertandingan Wimbledon melalui televisi.
Langkah itu sangat penting karena tenis mulai dapat dinikmati tanpa harus hadir langsung di stadion. Wimbledon kemudian berkembang menjadi acara televisi besar ketika perangkat televisi semakin banyak dimiliki rumah tangga setelah Perang Dunia Kedua.
Perempuan juga mempunyai bintang besar pada periode itu. Helen Wills Moody memenangkan delapan gelar tunggal Wimbledon antara 1927 dan 1938.
Perang Dunia Menghentikan Wimbledon
Wimbledon tidak selalu dapat digelar setiap tahun. Dua perang dunia menghentikan kompetisi dalam beberapa periode.
Turnamen tidak berlangsung selama Perang Dunia Pertama dan kembali dihentikan ketika Perang Dunia Kedua berlangsung.
Pada Oktober 1940, bom menghantam Centre Court dan merusak bagian stadion. Wimbledon baru kembali menggelar turnamen pada 1946, tetapi beberapa area masih menghadapi pembatasan karena kerusakan perang.
Kembalinya turnamen menjadi simbol bahwa kegiatan olahraga mulai pulih setelah perang.
Wimbledon kemudian kembali berkembang dengan hadirnya pemain dari Amerika Serikat, Australia, Eropa, serta kawasan lain.
Althea Gibson Membuka Halaman Penting pada 1957
Wimbledon pada 1950 an menjadi panggung bagi sejumlah pemain besar, termasuk Maureen Connolly dan Althea Gibson.
Gibson memenangkan tunggal putri pada 1957 setelah mengalahkan Darlene Hard dengan skor 6 3 dan 6 2. Ia juga meraih gelar ganda pada tahun yang sama.
Prestasi Gibson memiliki posisi penting dalam sejarah tenis karena ia harus menghadapi hambatan diskriminasi rasial sepanjang perjalanan kariernya.
Kemenangan tersebut turut memperlihatkan perubahan Wimbledon dari turnamen yang pada awalnya sangat terbatas menjadi panggung internasional dengan pemain dari latar belakang yang semakin beragam.
Wimbledon Memasuki Era Terbuka pada 1968
Tahun 1968 menjadi salah satu titik perubahan terbesar dalam sejarah tenis.
Sebelumnya, banyak turnamen utama hanya diperuntukkan bagi pemain amatir. Pemain profesional tidak selalu diizinkan mengikuti kejuaraan besar.
Wimbledon kemudian menjadi salah satu kekuatan yang mendorong lahirnya Open Era. Mulai 1968, pemain profesional dapat berkompetisi bersama pemain amatir.
Rod Laver menjadi juara tunggal putra pertama Wimbledon pada era tersebut, sedangkan Billie Jean King memenangkan tunggal putri.
Untuk pertama kalinya Wimbledon juga memberikan hadiah uang resmi. Laver menerima 2.000 pound sterling, sementara King menerima 750 pound sterling.
Perbedaan hadiah antara putra dan putri bertahan bertahun tahun. Wimbledon baru menerapkan hadiah uang yang sama untuk juara putra dan putri pada 2007.
Borg, Ashe dan Virginia Wade Warnai 1970 an
Dekade 1970 menghasilkan banyak pertandingan dan pemain yang kemudian menjadi bagian penting sejarah Wimbledon.
Bjorn Borg dari Swedia memenangkan lima gelar tunggal putra berturut turut antara 1976 dan 1980. Gaya tenang serta kemampuan fisiknya membuat Borg menjadi salah satu atlet paling populer pada masanya.
Arthur Ashe mencatat sejarah pada 1975 sebagai pria kulit hitam pertama yang memenangkan tunggal putra Wimbledon. Evonne Goolagong juga mencatat pencapaian sebagai juara dari masyarakat Aborigin Australia.
Pada 1977, Virginia Wade memenangkan tunggal putri tepat ketika Wimbledon merayakan seratus tahun turnamen. Kemenangannya terasa istimewa bagi publik Inggris karena berlangsung pada tahun Silver Jubilee Ratu Elizabeth II.
Wimbledon Lawn Tennis Museum juga dibuka pada perayaan seratus tahun tersebut.
Navratilova Menjadi Ratu Lapangan Rumput
Dekade 1980 sangat erat dengan nama Martina Navratilova.
Permainannya yang agresif dan kemampuan bermain di depan net sangat cocok dengan rumput Wimbledon. Navratilova akhirnya memenangkan sembilan gelar tunggal putri, jumlah terbanyak dalam sejarah nomor tersebut.
Ia meraih gelar pada 1978, 1979, enam kali berturut turut dari 1982 sampai 1987, serta kembali menjadi juara pada 1990.
Pada periode yang sama, tenis putra dihiasi persaingan Bjorn Borg, John McEnroe, Jimmy Connors, dan kemudian Boris Becker.
Becker menjadi salah satu kisah terbesar ketika memenangkan Wimbledon pada usia 17 tahun pada 1985. Permainan menyerang dan keberaniannya menjatuhkan badan di rumput membuat namanya segera dikenal dunia.
“Wimbledon mempunyai kemampuan langka untuk menghubungkan generasi. Nama Renshaw, Lenglen, Perry, Borg, Navratilova hingga Federer berada dalam satu daftar sejarah yang dimainkan di permukaan rumput yang sama.”
Graf dan Sampras Mendominasi 1990 an
Steffi Graf dan Pete Sampras menjadi dua nama utama Wimbledon pada dekade 1990.
Graf memenangkan tujuh gelar tunggal putri sepanjang kariernya. Kecepatan kaki, forehand kuat, dan kemampuan menyesuaikan diri di rumput menjadikannya salah satu pemain paling sukses di Centre Court.
Sampras juga memenangkan tujuh gelar tunggal putra. Servis kuat serta permainan depan net membuatnya sangat sulit dikalahkan di rumput.
Pada periode ini, teknologi raket juga mengalami perkembangan pesat. Raket kayu telah sepenuhnya ditinggalkan dan digantikan material yang memungkinkan pukulan lebih cepat.
Pertandingan Wimbledon pun berubah. Servis semakin bertenaga dan permainan atlet semakin agresif.
Williams Bersaudara dan Federer Membentuk Era Baru
Awal abad ke 21 menghadirkan Serena dan Venus Williams sebagai dua kekuatan terbesar tenis perempuan.
Venus memenangkan lima gelar tunggal Wimbledon, sedangkan Serena mengoleksi tujuh. Catatan resmi Wimbledon menempatkan keduanya dalam kelompok pemain putri paling sukses sepanjang sejarah.
Di sektor putra, Roger Federer membangun hubungan istimewa dengan Centre Court.
Petenis Swiss itu memenangkan delapan gelar tunggal Wimbledon antara 2003 dan 2017. Jumlah tersebut menjadi rekor tunggal putra.
Federer memenangkan lima gelar berturut turut dari 2003 hingga 2007 sebelum persaingannya dengan Rafael Nadal melahirkan sejumlah pertandingan terkenal.
Novak Djokovic kemudian menjadi kekuatan utama generasi berikutnya dan mengumpulkan tujuh gelar tunggal Wimbledon sampai 2022.
Atap Centre Court Mengubah Pertandingan Saat Hujan
Hujan selama puluhan tahun menjadi bagian yang hampir tidak dapat dipisahkan dari Wimbledon.
Sebelum 2009, pertandingan harus berhenti ketika hujan turun. Penutup lapangan dipasang dan pemain menunggu cuaca membaik.
Keadaan berubah setelah Centre Court memiliki atap yang dapat dibuka dan ditutup pada 2009. Teknologi tersebut memastikan pertandingan tetap dapat dimainkan ketika hujan atau cahaya alami tidak memadai.
Sepuluh tahun kemudian, No.1 Court memperoleh atap serupa.
Perubahan tersebut memperlihatkan bagaimana Wimbledon mempertahankan tradisi sekaligus menerima teknologi yang membantu pertandingan berjalan lebih teratur.
Pakaian Putih Tetap Dipertahankan
Salah satu ciri paling mudah dikenali dari Wimbledon adalah aturan pakaian putih.
Tradisi tersebut berasal dari kebiasaan tenis era Victoria. Pemain ketika itu banyak mengenakan pakaian putih karena kain berwarna terang dianggap lebih nyaman digunakan untuk aktivitas fisik.
Wimbledon kemudian mempertahankan kebiasaan tersebut ketika turnamen lain mulai menerima pakaian penuh warna.
Aturan modern sangat ketat. Pakaian pemain harus hampir seluruhnya putih. Warna krem bahkan tidak dianggap sebagai putih. Hiasan warna hanya diperbolehkan dalam ukuran sangat terbatas.
Ketentuan tersebut berlaku mulai ketika pemain memasuki area lapangan pertandingan.
Wimbledon beberapa kali menyesuaikan aturan untuk kebutuhan pemain, tetapi identitas pakaian putih tetap dipertahankan sebagai bagian utama penampilan turnamen.
Stroberi dan Krim Menjadi Tradisi Penonton
Selain tenis, Wimbledon terkenal dengan sajian stroberi dan krim.
Tradisi menikmati stroberi sudah hadir sejak masa awal turnamen di Worple Road. Buah tersebut cocok dengan musim panas Inggris yang bersamaan dengan jadwal penyelenggaraan Wimbledon.
Seiring meningkatnya jumlah penonton, konsumsi stroberi berubah menjadi bagian besar dari pengalaman Wimbledon.
Bagi banyak pengunjung, menyaksikan pertandingan sambil menikmati stroberi dengan krim sama ikoniknya dengan melihat pemain mengenakan pakaian putih.
Tradisi lain berupa antrean tiket juga tetap dipertahankan. Penonton masih dapat datang dan mengantre untuk memperoleh akses ke kompleks, sesuatu yang tidak banyak ditemukan pada acara olahraga berskala internasional.
Wimbledon Sempat Dibatalkan Lagi pada 2020
Setelah Perang Dunia Kedua, Wimbledon terus berlangsung setiap tahun sampai pandemi Covid 19 menghentikan turnamen pada 2020.
All England Club mengumumkan pembatalan pada 1 April 2020 karena pembatasan perjalanan, larangan kerumunan besar, serta tekanan terhadap layanan kesehatan dan darurat.
Pembatalan itu merupakan pertama kalinya Wimbledon tidak digelar sejak perang.
Turnamen kembali pada 2021 dengan pembatasan jumlah penonton dan protokol kesehatan.
Pada 2022, sebagian besar kapasitas stadion serta berbagai layanan penonton kembali seperti periode sebelum pandemi.
Wimbledon Tetap Memainkan Tenis di Atas Rumput
Dari empat Grand Slam yang ada sekarang, Wimbledon merupakan satu satunya yang masih menggunakan rumput.
Australian Open dan US Open menggunakan lapangan keras, sementara Roland Garros memakai tanah liat.
Rumput menghasilkan pantulan bola yang relatif rendah dan permainan cepat. Karakter tersebut selama bertahun tahun membuat servis, pukulan voli, dan kemampuan bergerak di permukaan licin menjadi bagian penting untuk memenangkan Wimbledon.
Perawatan lapangan dilakukan dengan standar tinggi karena permukaan berubah sepanjang turnamen. Rumput di sekitar garis belakang biasanya semakin aus setelah digunakan selama dua pekan.
Keputusan mempertahankan rumput membuat Wimbledon tetap mempunyai identitas yang langsung berbeda dari tiga Grand Slam lainnya. Statusnya sebagai turnamen tenis tertua juga tetap melekat sejak pertandingan pertama pada 1877.
Dari Hadiah 12 Guinea Menjadi Puluhan Juta Pound Sterling
Perubahan ekonomi Wimbledon menjadi salah satu gambaran paling jelas tentang pertumbuhan tenis profesional.
Spencer Gore hanya memperoleh 12 guinea ketika menjadi juara pada 1877. Pada 1968, Rod Laver menerima 2.000 pound sterling sebagai juara tunggal putra pertama pada Open Era.
Total hadiah Wimbledon 2026 mencapai 64,2 juta pound sterling. Juara tunggal putra dan putri masing masing memperoleh 3,6 juta pound sterling.
Perubahan tersebut mengikuti perkembangan tenis sebagai industri olahraga internasional dengan pendapatan dari hak siar, sponsor, tiket, keramahtamahan, dan kegiatan komersial lainnya.
Meski skala finansial berubah sangat besar, All England Club tetap mempertahankan banyak unsur yang menghubungkan turnamen modern dengan era awalnya.
Lapangan rumput masih digunakan, pakaian putih tetap terlihat, Centre Court tetap menjadi pusat pertandingan, dan nama Wimbledon masih menjadi tujuan yang ingin dicapai para petenis terbaik ketika musim panas tiba di London.






