Tapak Suci dari Kauman, Sejarah Perguruan Silat Muhammadiyah sejak 1963

Sejarah48 Views

Tapak Suci dari Kauman, Sejarah Perguruan Silat Muhammadiyah sejak 1963 Tapak Suci Putera Muhammadiyah menjadi salah satu perguruan pencak silat besar di Indonesia yang tumbuh dari lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah. Organisasi ini resmi berdiri pada 31 Juli 1963 di Kampung Kauman, Yogyakarta, sebuah kawasan yang mempunyai hubungan sangat erat dengan kelahiran dan perkembangan Muhammadiyah.

Kelahiran Tapak Suci tidak terjadi secara tiba tiba. Jauh sebelum nama tersebut digunakan, Kauman telah mempunyai tradisi pencak yang diwariskan melalui beberapa generasi pendekar. Sejumlah perguruan yang memiliki akar keilmuan berdekatan kemudian bertemu dan menyatukan diri sehingga terbentuk sebuah perguruan dengan sistem pendidikan yang lebih teratur.

Muhammadiyah mencatat Tapak Suci lahir dari penggabungan tiga perguruan utama, yakni Cikauman, Seranoman, dan Kasegu. Dari penyatuan tersebut berkembang sebuah organisasi pencak silat yang tidak hanya mengajarkan kemampuan bela diri, tetapi juga menempatkan pendidikan agama dan akhlak sebagai bagian utama latihan.

Akar Tapak Suci Sudah Tumbuh Sebelum 1963

Tanggal 31 Juli 1963 merupakan kelahiran Tapak Suci sebagai organisasi. Namun, garis keilmuan yang membentuknya sudah berkembang puluhan tahun sebelumnya.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Tapak Suci Afnan Hadikusumo pernah menjelaskan bahwa secara keilmuan, akar Tapak Suci dapat dilacak setidaknya sampai 1925. Tradisi tersebut mempunyai hubungan dengan pencak dari Banjaran, Jawa Tengah, yang kemudian berkembang di lingkungan Kauman, Yogyakarta.

Nama KH Busyro Syuhada menjadi tokoh penting dalam jalur tersebut. Ia dikenal mengajarkan ilmu pencak kepada sejumlah murid yang kemudian meneruskan tradisi bela diri di lingkungan Muhammadiyah.

Dua murid yang menonjol adalah M Wahib dan Ahmad Dimyati. Keduanya kemudian mempunyai peranan besar dalam terbentuknya Perguruan Cikauman.

Jalur inilah yang menjelaskan mengapa sejarah Tapak Suci tidak cukup hanya dimulai dari 1963. Tahun tersebut merupakan titik penyatuan organisasi, sedangkan ilmu pencaknya telah berkembang melalui hubungan guru dan murid jauh lebih lama.

Perguruan Cikauman Berdiri pada 1925

Salah satu fondasi terpenting Tapak Suci adalah Perguruan Cikauman yang didirikan pada 1925.

Perguruan ini dikembangkan oleh Ahmad Dimyati dan M Wahib. Keduanya merupakan murid yang mendalami ajaran pencak dari KH Busyro Syuhada. Lingkungan Kauman kemudian menjadi tempat keilmuan tersebut diteruskan kepada generasi berikutnya.

Cikauman tidak hanya menjadi tempat seseorang belajar menyerang atau mempertahankan diri. Tradisi pencak di lingkungan tersebut berkembang bersama kehidupan masyarakat Islam Kauman.

Kauman sendiri dikenal sebagai kawasan santri sekaligus tempat lahir Muhammadiyah. Aktivitas agama, pendidikan, organisasi, dan kehidupan sosial berjalan sangat kuat di kawasan tersebut.

Karena itu, pencak yang berkembang di Kauman juga bersentuhan langsung dengan pendidikan keagamaan.

Kemampuan bela diri tidak diarahkan untuk membentuk orang yang gemar menunjukkan kekuatan. Seorang pendekar justru dituntut mempunyai kemampuan mengendalikan dirinya.

Jenderal Soedirman Terkait dengan Jalur Keilmuan Pendahulu Tapak Suci

Salah satu nama besar yang sering muncul ketika membicarakan garis perguruan tersebut adalah Jenderal Besar Soedirman.

Muhammadiyah mencatat Soedirman termasuk orang yang pernah mempelajari ilmu pencak dari jalur KH Busyro Syuhada. Hubungan ini terjadi sebelum Tapak Suci resmi berdiri sebagai organisasi pada 1963.

Karena itu, Soedirman tidak tepat disebut anggota Tapak Suci dalam pengertian organisasi yang dikenal sekarang. Ia hidup dan belajar pada periode ketika perguruan pendahulunya masih berkembang.

Keterangan tersebut sekaligus memperlihatkan panjangnya perjalanan keilmuan yang nantinya membentuk Tapak Suci.

Tradisi guru dan murid berlangsung terlebih dahulu sebelum kemudian dibangun menjadi kurikulum, struktur organisasi, tingkatan latihan, serta sistem pembinaan yang lebih luas.

Seranoman Menambah Warna Pencak Kauman

Cikauman bukan satu satunya perguruan yang berkembang di kawasan tersebut.

Pada dekade 1930 an, Muhammad Syamsuddin mendirikan Perguruan Seranoman. Perguruan ini menjadi bagian lain dari tradisi pencak Kauman yang kemudian bertemu dengan Cikauman dan Kasegu.

Kemunculan beberapa perguruan dalam lingkungan yang relatif berdekatan membuat pertukaran ilmu berlangsung cukup aktif.

Setiap guru mempunyai pengalaman dan penguasaan gerak masing masing. Namun, terdapat kebutuhan untuk menjaga agar perkembangan pencak tidak berubah menjadi persaingan yang memecah hubungan antarkelompok.

Pertukaran pengetahuan kemudian menjadi salah satu ciri penting dalam proses menuju pembentukan Tapak Suci.

Kemampuan seorang pendekar tidak cukup hanya diklaim. Teknik perlu dapat diterangkan, diuji, dipelajari, dan dikembangkan.

Muhammad Barie Irsyad Menjadi Tokoh Sentral

Nama Muhammad Barie Irsyad tidak dapat dipisahkan dari kelahiran Tapak Suci.

Ia lahir di Kauman, Yogyakarta, pada 3 Agustus 1934 dan tumbuh di lingkungan yang mempunyai tradisi Islam serta pencak cukup kuat. Barie kemudian belajar di Perguruan Cikauman dan tercatat sebagai murid generasi keenam.

Kemampuannya berkembang hingga ia diproyeksikan menjadi salah satu penerus tradisi pencak Kauman.

Setelah masa perang kemerdekaan, Barie terus memperdalam pencak. Ia mempelajari berbagai aliran yang berkembang di masyarakat, tetapi mempunyai sikap tegas terhadap unsur mistis yang dinilainya bertentangan dengan ajaran Islam.

Baginya, pencak merupakan ilmu gerak yang dapat diterangkan secara rasional.

Teknik harus bisa diuji melalui latihan dan pertukaran pengetahuan. Pendekar tidak seharusnya menggantungkan kemampuannya pada ritual yang tidak mempunyai hubungan dengan teknik bela diri.

“Menurut penulis, sikap Barie Irsyad menjadi salah satu bagian yang membuat Tapak Suci mempunyai identitas kuat. Pencak ditempatkan sebagai ilmu yang dapat dilatih dan diuji, sementara kekuatan pribadi tetap dibatasi oleh ajaran agama.”

Kasegu Lahir pada 1957

Pemikiran Muhammad Barie Irsyad kemudian melahirkan Perguruan Kasegu pada 1957.

Kasegu menjadi salah satu tempat pengembangan sistem pencak yang nantinya masuk ke dalam Tapak Suci. Barie semakin serius membangun metode latihan yang teratur dan dapat diteruskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Pendirian Kasegu memperlihatkan kebutuhan untuk memperbarui metode pengajaran.

Pencak tidak cukup hanya diwariskan melalui hafalan gerak. Murid harus memahami alasan sebuah teknik digunakan, posisi tubuh, jarak, waktu serangan, cara bertahan, serta bagaimana teknik tersebut diuji dalam latihan.

Pemikiran seperti ini kemudian memberi warna kuat pada kurikulum Tapak Suci setelah organisasi berdiri.

Tiga Perguruan Akhirnya Memilih Bersatu

Memasuki awal dekade 1960 an, terdapat dorongan untuk menyatukan perguruan yang mempunyai hubungan keilmuan di Kauman.

Cikauman, Seranoman, dan Kasegu memiliki jalur yang saling berhubungan. Membiarkan ketiganya berjalan sendiri dinilai dapat membuka persaingan dan melemahkan pembinaan.

Para guru kemudian melakukan musyawarah.

Proses penyatuan tidak hanya berlangsung melalui pembicaraan. Muhammadiyah mencatat terdapat tradisi adu kaweruh, yakni pertukaran pengetahuan antarpesilat untuk melihat dan menguji keilmuan masing masing.

Dari proses tersebut diperoleh kesepakatan bahwa perguruan yang memiliki hubungan keilmuan dapat dipersatukan dalam sebuah organisasi baru.

Pilihan nama akhirnya jatuh kepada Tapak Suci.

Tapak Suci Resmi Berdiri pada 31 Juli 1963

Tanggal 31 Juli 1963 kemudian ditetapkan sebagai hari lahir Perguruan Tapak Suci.

Lokasi kelahirannya berada di Kauman, Yogyakarta. Ketiga unsur utama pencak Cikauman, Seranoman, dan Kasegu dipertemukan dalam satu wadah.

Nama tersebut kemudian berkembang menjadi Tapak Suci Putera Muhammadiyah.

Pembentukan organisasi memberi keuntungan besar bagi proses pendidikan. Sistem latihan dapat dibuat seragam, kurikulum dapat disusun, pembinaan guru dapat dikendalikan, dan cabang baru lebih mudah dibuka.

Tapak Suci juga mempunyai identitas yang jelas sebagai perguruan bela diri yang berlandaskan Islam.

Al Quran dan As Sunnah ditempatkan sebagai landasan nilai organisasi, sedangkan hubungan antarpesilat dibangun dalam semangat persaudaraan.

Semboyan Iman dan Akhlak Menjadi Pegangan

Tapak Suci mempunyai semboyan yang sangat dikenal di kalangan anggotanya, yakni “Dengan iman dan akhlak saya menjadi kuat, tanpa iman dan akhlak saya menjadi lemah.”

Semboyan tersebut berhubungan erat dengan gagasan Barie Irsyad mengenai pendidikan seorang pesilat.

Latihan ragawi dianggap tidak cukup apabila tidak berjalan bersama pembinaan ruhani dan perilaku. Muhammadiyah mencatat gagasan inilah yang ikut melahirkan kurikulum Tapak Suci sejak periode pendiriannya.

Seorang pesilat dapat mempunyai pukulan kuat, tendangan cepat, atau penguasaan senjata tinggi. Namun, kemampuan tersebut seharusnya berada dalam kendali akhlak.

Cara pandang ini juga menjelaskan mengapa pendidikan Tapak Suci tidak hanya berisi gerakan pencak.

Dalam ujian kenaikan tingkat yang masih dilaksanakan hingga sekarang, peserta dapat diuji mengenai keilmuan Tapak Suci, pengetahuan Kemuhammadiyahan, penguasaan jurus, senjata, serta kemampuan fisik.

Tahun 1964 Tapak Suci Mulai Menyebar ke Daerah

Setelah berdiri, perkembangan Tapak Suci berlangsung relatif cepat.

Pada 1964 mulai muncul permintaan pembukaan cabang dari luar Yogyakarta. Perkembangan tersebut membuat perguruan tidak lagi hanya menjadi kelompok pencak lokal di Kauman.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah ketika itu berada di bawah kepemimpinan KH Ahmad Badawi.

Muhammadiyah kemudian memberikan restu agar Tapak Suci berkembang sebagai bagian dari lingkungan Persyarikatan.

Nama Perguruan Tapak Suci Putera Muhammadiyah mulai digunakan untuk mempertegas hubungan organisasi tersebut dengan Muhammadiyah.

Perubahan ini penting karena jaringan Muhammadiyah sudah tersebar luas.

Sekolah, universitas, cabang, ranting, serta berbagai komunitas Muhammadiyah kemudian menjadi ruang yang mendukung pembentukan kelompok latihan Tapak Suci di banyak daerah.

Konferensi Nasional Pertama Digelar pada 1966

Pertumbuhan cabang membutuhkan organisasi yang lebih teratur.

Pada 1966, Tapak Suci menyelenggarakan Konferensi Nasional pertama. Perwakilan perguruan yang sudah berkembang di sejumlah wilayah hadir untuk membicarakan pemantapan organisasi secara nasional.

Dalam forum tersebut H Djarnawi Hadikusumo ditunjuk sebagai Ketua Umum pertama Tapak Suci Putera Muhammadiyah.

Muhammad Barie Irsyad memilih lebih banyak berfokus pada pengembangan teknik, kurikulum, serta pembinaan pesilat.

Pembagian peran tersebut membantu Tapak Suci tumbuh sebagai organisasi besar tanpa meninggalkan pengembangan keilmuannya.

Satu kelompok dapat menangani administrasi dan penyebaran organisasi, sedangkan para pendekar menjaga standar pendidikan pencak.

Resmi Menjadi Organisasi Otonom Muhammadiyah

Hubungan Tapak Suci dengan Muhammadiyah semakin kuat setelah Tanwir Muhammadiyah 1967.

Dalam perkembangan tersebut, Tapak Suci kemudian dikenal sebagai organisasi otonom Muhammadiyah ke 11.

Status organisasi otonom mempunyai posisi penting.

Tapak Suci dapat mengurus pembinaan anggotanya dengan struktur sendiri, tetapi tetap berada dalam lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah.

Keberadaan organisasi juga membantu Muhammadiyah menjangkau kelompok masyarakat yang tertarik dengan olahraga dan bela diri.

Pencak silat kemudian menjadi salah satu pintu pendidikan kader.

Seseorang dapat masuk karena ingin belajar bela diri, tetapi selama proses latihan ia juga memperoleh pendidikan kedisiplinan, organisasi, agama, dan kegiatan sosial.

Tapak Suci Menolak Pencak yang Bertumpu pada Mistisisme

Salah satu karakter yang terus ditekankan dalam sejarah Tapak Suci ialah pendekatan rasional terhadap bela diri.

Barie Irsyad berpandangan ilmu pencak harus dapat dipelajari melalui metode yang jelas. Kemampuan teknik tidak dibangun melalui praktik ilmu hitam atau ritual yang bertentangan dengan keyakinan Islam.

Pandangan tersebut bukan berarti Tapak Suci menolak tradisi.

Sebaliknya, Muhammadiyah menyebut Tapak Suci sebagai salah satu pelestari pencak silat yang merupakan budaya luhur Indonesia.

Yang dipisahkan adalah unsur budaya pencak dari praktik yang dianggap bertentangan dengan akidah.

Gerakan, senjata, tata latihan, penghormatan kepada guru, serta warisan teknik tetap dipelihara.

Sementara kemampuan pesilat ditingkatkan melalui latihan yang dapat diuji.

Jurus Tidak Hanya Digunakan untuk Pertandingan

Tapak Suci mempunyai sistem jurus yang dikembangkan sebagai bagian dari identitas perguruan.

Latihan mencakup serangan, pertahanan, langkah, keseimbangan tubuh, kemampuan membaca jarak, serta penggunaan senjata.

Pada tahap tertentu, anggota juga mempelajari senjata khas.

Salah satu yang paling dikenal adalah Segu. Senjata tersebut bahkan digunakan dalam sejumlah prosesi resmi Tapak Suci, termasuk pembukaan kegiatan dan ujian kenaikan tingkat.

Latihan tidak semata diarahkan menuju pertandingan.

Sebagian anggota mengikuti Tapak Suci untuk pendidikan bela diri dan karakter, sedangkan atlet memperoleh pembinaan lebih lanjut untuk mengikuti kejuaraan pencak silat.

Dua jalur tersebut dapat berjalan bersama dalam satu organisasi.

Perguruan Menjadi Tempat Kaderisasi Muhammadiyah

Muhammadiyah menempatkan Tapak Suci lebih luas daripada sekadar klub olahraga.

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir beberapa kali menekankan posisi Tapak Suci dalam pembentukan kader yang beriman, berakhlak, sehat, disiplin, dan mampu berprestasi.

Cara ini membuat latihan mempunyai lapisan pendidikan tambahan.

Anggota tidak hanya diminta hadir dan menghafal jurus. Mereka juga mengenal organisasi, menjalankan kegiatan bersama, belajar memimpin kelompok, mengikuti ujian, serta memikul tanggung jawab ketika tingkatnya meningkat.

Kader yang sudah memperoleh kemampuan tertentu kemudian dapat membantu melatih generasi berikutnya.

Model tersebut membuat penyebaran perguruan tidak hanya bergantung pada beberapa pendekar pusat.

Warna Merah Menjadi Identitas yang Mudah Dikenali

Seragam Tapak Suci mudah dikenali melalui warna merah dengan unsur kuning dan atribut tertentu.

Dalam berbagai kejuaraan, latihan, maupun kegiatan Muhammadiyah, barisan pesilat berbaju merah menjadi pemandangan yang sangat khas.

Identitas visual tersebut membantu memperkuat rasa kebersamaan di antara anggota yang berasal dari daerah berbeda.

Seseorang yang berlatih di Jawa dapat bertemu anggota dari Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, atau negara lain dengan sistem perguruan yang sama.

Namun, keseragaman tidak hanya berada pada pakaian.

Kurikulum dan mekanisme kenaikan tingkat juga digunakan untuk mempertahankan standar kemampuan.

“Menurut penulis, kemampuan Tapak Suci bertahan lebih dari enam dekade berkaitan dengan keberhasilannya mengubah tradisi pencak berbasis hubungan guru dan murid menjadi sebuah sistem pendidikan yang dapat diteruskan dalam organisasi besar.”

Tapak Suci Berkembang Bersama Pencak Silat Prestasi

Perkembangan olahraga pencak silat membuat Tapak Suci turut membina atlet untuk bertanding dalam berbagai kejuaraan.

Perguruan mempunyai pengalaman menghasilkan atlet yang tampil dalam kompetisi daerah maupun nasional.

Pada 2026, pimpinan Tapak Suci kembali menekankan penggunaan sport science dalam pembinaan atlet. Pendekatan tersebut meliputi peningkatan kualitas latihan berdasarkan perkembangan ilmu olahraga, bukan sekadar menambah volume latihan fisik.

Gagasan tersebut sebenarnya mempunyai hubungan dengan prinsip awal Tapak Suci.

Sejak masa Barie Irsyad, pencak sudah dipandang sebagai ilmu gerak yang harus dipelajari secara rasional.

Peralatan latihan, pengetahuan kebugaran, pemulihan atlet, analisis pertandingan, serta metode kepelatihan kini dapat memperluas pendekatan yang dahulu dimulai melalui pertukaran pengetahuan antarguru.

Dari Kauman Menjangkau Puluhan Negara

Perjalanan Tapak Suci kemudian melewati batas Indonesia.

Muhammadiyah pada Juni 2026 menyebut jaringan Tapak Suci telah hadir di 24 negara. Pimpinan perguruan juga menyebut penyebarannya telah mencapai 36 provinsi di Indonesia.

Keberadaan cabang internasional dapat ditemukan antara lain melalui komunitas Muhammadiyah, diaspora Indonesia, pelajar, serta masyarakat setempat yang tertarik mempelajari pencak silat.

Turki menjadi salah satu negara yang mempunyai aktivitas pembinaan cukup teratur.

Pada 2024, Tapak Suci di Turki menggelar latihan bersama dan ujian kenaikan tingkat di Istanbul serta Kütahya. Peserta menjalani pengujian keilmuan, Kemuhammadiyahan, jurus, senjata, dan fisik.

Penyebaran tersebut membuat pencak silat Indonesia diperkenalkan melalui sistem latihan yang tetap membawa ciri organisasi asalnya.

Padepokan Nasional Dibangun di Yogyakarta

Besarnya jaringan organisasi mendorong kebutuhan terhadap pusat pembinaan nasional.

Muhammadiyah pada 2026 melanjutkan pembangunan Padepokan Tapak Suci Putera Muhammadiyah di kawasan SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta. Fasilitas itu dipersiapkan menjadi pusat kegiatan dan pembinaan kader.

Pembangunan padepokan telah menjadi salah satu agenda yang lama diinginkan organisasi.

Dengan jaringan yang tersebar di Indonesia dan luar negeri, pusat latihan nasional dapat digunakan untuk pendidikan pendekar, kegiatan organisasi, pengembangan kurikulum, latihan atlet, dan pertemuan anggota dari berbagai daerah.

Lokasinya di Yogyakarta juga mempunyai nilai historis karena kota tersebut merupakan tempat kelahiran Tapak Suci.

Dari Kauman, perguruan ini berkembang selama puluhan tahun sebelum akhirnya mempunyai jaringan lintas negara.

Muktamar 2026 Dihadiri Ribuan Kader

Perkembangan terbaru terlihat ketika Muktamar ke 16 Tapak Suci Putera Muhammadiyah digelar di Semarang pada Agustus 2026.

Muhammadiyah mencatat sekitar 11 ribu peserta dari Indonesia dan luar negeri hadir dalam rangkaian pembukaan yang memenuhi kawasan Simpang Lima Semarang.

Jumlah tersebut menunjukkan perubahan skala yang sangat besar dibandingkan ketika beberapa perguruan pencak Kauman bermusyawarah pada awal dekade 1960 an.

Agenda organisasi kini mencakup kaderisasi, peningkatan prestasi, pengembangan sport science, penguatan struktur, serta pembinaan jaringan internasional.

Namun, unsur yang diwariskan sejak awal tetap dipertahankan.

Latihan pencak berjalan bersama pendidikan agama dan akhlak. Kemampuan fisik tidak ditempatkan sebagai tujuan tunggal, sementara seorang pendekar diharapkan mempunyai kedisiplinan serta kemampuan mengendalikan kekuatan yang dipelajarinya.

Tradisi Kauman Tetap Menjadi Akar Perguruan

Lebih dari enam dekade setelah berdiri, hubungan Tapak Suci dengan Kauman tetap menjadi bagian penting identitas organisasi.

Di kawasan inilah Cikauman berkembang sejak 1925. Seranoman muncul pada dekade berikutnya. Muhammad Barie Irsyad kemudian membangun Kasegu pada 1957 sebelum ketiga jalur tersebut dipersatukan pada 31 Juli 1963.

Perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa Tapak Suci terbentuk melalui proses panjang.

Ada pewarisan ilmu dari guru kepada murid, pembentukan beberapa perguruan, pertukaran teknik, musyawarah penyatuan, penyusunan kurikulum, pembentukan organisasi nasional, hingga ekspansi ke luar Indonesia.

Barie Irsyad sendiri terus mengabdikan perhatian pada perkembangan Tapak Suci hingga akhir hidupnya. Muhammadiyah mencatat ia wafat di Yogyakarta pada 2003 dalam usia 68 tahun, ketika perguruan mulai semakin serius memperluas aktivitas internasionalnya.

Warisan tersebut terus terlihat pada latihan Tapak Suci hari ini. Baju merah mungkin menjadi hal pertama yang terlihat, tetapi di baliknya terdapat perjalanan panjang perguruan pencak Kauman yang memilih bersatu dan membangun sistem pendidikan bela diri di lingkungan Muhammadiyah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *